Beranda / Polri / Simak Rute Alternatif Pantura Cirebon! Arak-arakan Budaya Memayu Buyut Trusmi Berlangsung Minggu Ini

Simak Rute Alternatif Pantura Cirebon! Arak-arakan Budaya Memayu Buyut Trusmi Berlangsung Minggu Ini

MEMO INDONESIA.COM | CIREBON

Jalur Pantura di wilayah Kabupaten Cirebon akan mengalami pengalihan rute pada akhir pekan ini. Hal ini menyusul pelaksanaan tradisi adat tahunan yang sakral dan megah, Memayu Buyut Trusmi, yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 1 November 2026, pukul 06.00 hingga 18.00 WIB.

Kasat Lantas Polresta Cirebon, AKP Yudha Satyo Rahardjo, mengimbau masyarakat dan pengendara yang melintasi kawasan tersebut untuk bersiap menggunakan jalur alternatif demi mengantisipasi kepadatan akibat arak-arakan budaya atau Ider-ideran.

“Ruas yang perlu diantisipasi membentang mulai dari Ramayana Plered, melewati Jalan Otto Iskandardinata dan Jalan Raya Panembahan, hingga SPBU Tengah Tani,” ujar AKP Yudha, Kamis (29/10/2026).

Rute Alternatif Pengendara
Bagi pengendara kendaraan roda empat, kepolisian sangat menyarankan untuk memanfaatkan jalur tol. Namun, jika ingin menghindari tol, jalur melalui kawasan Sumber dapat menjadi alternatif perjalanan yang lebih lancar.

Pengendara yang hendak melintasi kawasan Plered, Weru, hingga Tengah Tani juga diminta untuk lebih bijak dalam mengatur waktu keberangkatan, memeriksa rute sebelum melaju, serta selalu mengikuti arahan petugas di lapangan. “Kami mengimbau untuk tidak memaksakan diri melintasi ruas jalan yang sedang digunakan untuk kegiatan adat,” tambah AKP Yudha.

Lebih dari Sekadar Tradisi, Ini Pesona Memayu Buyut Trusmi
Pengalihan rute ini sejalan dengan berlangsungnya prosesi penghormatan kepada Ki Buyut Trusmi yang berpusat di Kompleks Kramat Buyut Trusmi, Desa Trusmi Wetan, Kecamatan Weru.

Bagi Anda yang melintas atau sengaja ingin menyempatkan diri menyaksikan, tradisi ini menawarkan pesona budaya yang luar biasa. Salah satu prosesi inti yang paling dinanti adalah memayu, yakni penggantian atap bangunan makam menggunakan anyaman alang-alang (welit).

Puncak kemeriahan akan terasa saat Ider-ideran berlangsung. Masyarakat akan dihibur dengan arak-arakan benda pusaka, kehadiran para sesepuh adat, pertunjukan seni tradisional, pamerannya kain batik khas Trusmi, hingga hasil bumi yang melimpah. Bagi warga setempat, ini adalah wujud rasa syukur, doa keselamatan, dan penjagaan warisan leluhur yang tak ternilai harganya.

(Humas/Red)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *