Share

BONDOWOSO – Lembaga survey Aksara Institute menilai pasangan Dhafir-Dayat lebih unggul dalam debat publik babak kedua, Sabtu malam (19/5), di Aula Hotel Ijen View.
Melalui press release yang diterima Memo Indonesia, diterangkan bahwa berdasarkan survey yang dilakukan Aksara Institute sesaat setelah debat, sebagian besar responden menilai paslon nomor 2 tampil lebih baik dari paslon 1.

Pada aspek penguasaan isu dan permasalahan yang berkaitan dengan materi debat, misalnya, 68.3 % responden menilai paslon dua lebih baik, dibandingkan paslon 1 yang mendapat penilaian baik dari 31.7 % responden. Demikian juga dengan kemampuan paslon mengkomunikasikan gagasan-gagasannya kepada publik, pasangan Dhafir-Dayat juga dinilai lebih unggul oleh 69 % responden, jauh melampaui pasangan Salwa-Irwan yang hanya dinilai baik oleh 31 % responden.

Pasangan nomer urut dua, khususnya Cabup Ahmad Dhafir, memang cukup percaya diri dalam mengkomunikasikan gagasan-gagasannya kepada khalayak. Dalam pengamatan Aksara Institute, pasangan yang didukung banyak partai ini memiliki kemampuan asertif yang tampak menonjol. Kemampuan ini membuat ide-ide yang disampaikan mudah ditangkap dan dipahami publik.

Selain penguasaan isu dan permasalahan, serta kemampuan komunikasi, dua aspek lain juga ditanyakan kepada responden, yaitu program kerja terbaik dan pasangan yang paling saling melengkapi. Dari kedua aspek ini, paslon nomer 2 kembali dipersepsi lebih baik oleh sebagian besar responden. Untuk program kerja, paslon 2 unggul 68.3 % atas paslon 1 dengan 31.7 % responden, kemudian untuk pasangan yang paling saling melengkapi, paslon 2 meraih 66.9 %, unggul atas paslon 1 yang meraih 33.1 % simpati responden.

Baca Juga : Paparkan Visi Misi, Salwa Banyak Lihat Teks, Dhafir Lancar

“Dalam rangkaian debat malam tadi, pasangan nomer dua cukup berhasil menunjukkan diri sebagai paket yang saling melengkapi,” ujar Fathorrosy, juru bicara Aksara Institute. Baik Cabup Dhafir maupun Cawabup Hidayat, kata dia, sama sama hidup dalam debat kali ini. Sebaliknya, pasangan nomer urut satu terlihat beberapa kali tidak bisa memanfaatkan waktu secara efektif untuk mengkomunikasikan ide-idenya.

Demikian juga saat terjadi perdebatan mengenai program atau kebijakan yang akan dilakukan masing-masing paslon. Misalnya, untuk meningkatkan pendapatan pajak daerah, paslon 2 tampil percaya diri menjelaskan program yang akan dilakukannya, seperti optimalisasi pengembangan periwisata, menghidupkan UKM dan seterusnya. Sebaliknya, paslon 1 terlihat sedikit tidak siap dengan pertanyaan ini saat menjawab menghidupkan stasiun Bondowoso sebagai program yang akan diterapkan.

Menariknya, cawabup paslon 1 Irwan Bahtiar seolah mendapatkan panggung pada debat malam ini. Beberapa kali cawabup ini mengambil alih peran cabup untuk menjelaskan maupun menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan kepada pasangan ini.

Debat malam ini juga semakin memperlihatkan posisi kedua pasangan dalam relasinya dengan kebijakan pemerintah sebelumnya. Misalnya ketika kedua paslon berdebat tentang retribusi, pasangan nomer urut 1 ingin menghidupkan kembali geliat produksi tape yang mereka klaim sebagai identitas Bondowoso. Publik bisa menebak dengan mudah arah gagasan ini yang hendak mengkritik pemerintah sebelumnya yang dianggap meminggirkan tape.

Pasangan calon nomer dua sebaliknya menjawab bahwa tape dan kopi sebagai sumber pendapatan penting bagi Bondowoso. Tape perlu terus digarap, tetapi kopi sebagai branding baru yang berhasil dikembangkan pemerintahan sebelumnya harus dikelola secara beriringan dengan tape. Dengan demikian, pasangan nomer urut dua ini semakin menunjukkan posisinya yang berusaha melanjutkan program-program pemerintahan sebelumnya.

Fathorrosy menerangkan bahwa Survei ini sendiri dilakukan terhadap 115 responden yang menyaksikan debat tadi malam. Teknik pengumpulan data dalam survey ini dilakukan melalui kombinasi tatap muka langsung dan komunikasi via telepon.  Dengan angka responden sejumlah itu, margin of error survey ini adalah 9.11 % dengan level kepercayaan 95 %. (och)