BONDOWOSO – Minimnya serapan gabah petani di Bondowoso ditengarai karena Bulog tidak komitmen dengan program yang sudah dicetuskan. Bulog lebih memilih untuk menyerap beras dibanding menyerap gabah dari petani.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Bondowoso Munandar, mengungkapkan bahwa pihaknya tidak main-main dengan target serapan gabah petani ini. Apalagi sudah ada MOU antara Pemkab Bondowoso, Bulog dan TNI untuk meningkatkan serapan gabah petani.

Pada 2017 ini, lanjut dia, pihaknya sudah menandatangani kesepakatan antara Kasubdivre Bulog Bondowoso, Danrem dan Pemkab untuk menyerap gabah petani. “Dalam MOU yang ditandatangani akhir Februari itu, Bulog Bondowoso ditarget menyerap 125 ribu ton gabah,” jelasnya kepada Memo Indonesia, Kamis (23/3/2017).

MOU tersebut menurutnya sudah sesuai dengan program pemerintah pusat untuk melindungi petani agar tidak terseret tengkulak. Sehingga berbagai langkah untuk memudahkan petani agar gabahnya terserap Bulog dilakukan.

“Kalau Bulog main-main dengan kesepekatan itu, risikonya silahkan tanggung sendiri,” ungkapnya.

Menurutnya, berdasarkan laporan di lapangan, Bulog terkesan tidak  komitmen terhadap kesepakatan yang telah ditandatangani. Bulog tidak mau mengambil gabah petani.

“Bahkan dalam rapat antara Dandim, Bulog dan Disperta, Bulog tetap tidak mau mengambil gabah petani, hanya mau mengambil beras,” jelasnya.

Terkait dengan sikap Bulog tersebut, pihaknya tentu tidak sepakat. Karena program yang ditandatangani itu adalah serapan gabah petani (Sergap). “Karena kalau hanya mau mengambil beras, berarti bukan Sergap, Tapi Serbet (serapan beras petani),” tandasnya.

Melihat kondisi itu, pihaknya dengan tegas meminta kepada Bulog Bondowoso untuk komitmen dengan program yang telah disepakati. “Tolong petani saya jangan diplokoto. Tolong PPL jangan dibuat berbenturan dengan petani,” harapnya. (esb)