Share

BONDOWOSO – Bupati Amin Said Husni menerangkan bahwa panen kopi Arabika tahun 2018 ini meningkat hingga 30 persen dibanding tahun sebelumnya. Adapun panen kopi tahun ini mencapai sekitar  3ribu ton. Panen kopi yang dimaksud merupakan kopi yang dihasilkan dari areal kopi rakyat yang masuk dalam kluster kopi arabika Java Ijen Raung yang merupakan pembinaan Pemkab Bondowoso.

“Bulan Juni ini sebenarnya hampir selesai dan puncaknya di bulan Agustus,”urainya usai mengikuti  acara Petik Kopi di Petak 16, desa Sukorejo, Kecamatan Sumber Wringin, Sabtu (28/7).

Menurut Bupati dua periode itu, kondisi bagusnya hasil panen ini juga semakin menguntungkan para petani, karena diimbangi dengan harga kopi yang meningkat. Yakni kopi arabika CR dihargai Rp 10ribu hingga Rp 12ribu per kilogram meningkat daripada sebelumnya yang hanya Rp 8.500 per kilogram. Kemudian, kopi HS basah mencapai Rp 28ribu per kilogram, kopi green been yakni Rp 85ribu hingga Rp 100ribu per kilogram.

“Itu harga yang sangat bagus dan memberikan keuntungan yang sangat baik bagi petani kita,”tambahnya.

Baca Juga : Mentri Desa Puji Pengembangan Kopi Bondowoso

Menurutnya, kualitas ekspor dari kopi Bondowoso terus dipertahankan karena merupakan kawasan yang sudah memperoleh indikasi geografis (IG). Artinya, mutu produksi kawasan ini dijaga dan dipertahankan.

“Karena sampai tahun ini IG nya masih bertahan berarti kualitasnya juga tetap dipelahara oleh para petani ini,”imbuhnya.

Sementara itu, Sumarhum, Ketua Umum Apeki, mengatakan, pasar kopi Bondowoso saat ini semakin luas. Bahkan pasar domestiknya pun semakin besar. Penyebabnya, masyarakat lokal sudah mau mengkonsumsi kopi arabika. Terbukti, di OPH milik petani kopi yang memproduksi hilir juga, justru mampu menjual hingga 500-1000 pack per bulan. Kondisi ini meningkat, dari sebelumnya yang hanya mampu menjual paling banyak 50 pack per bulan.

“Kalau pasarnya Eropa dan Amerika. Sekarang sudah merambah di Asean. Bahkan pasar domestiknya sudah semakin kuat,”pungkasnya. (Och)