Share

BONDOWOSO – Perhelatan Kejuaran Paragliding Trip of Indonesia (TroI) seri grand Final di Puncak Megasari Kecamatan Ijen ditutup manis dengan berbagai tampilan kesenian asli Bondowoso. Diantaranya yakni kesenian Tari Pojien, yang mencuri perhatian ratusan pasang mata atlet dirgantara yang hadir, Minggu (15/10).

Tampak dua ekor singo berwarna putih didampingi sekitar 10 penari Pojien berjalan menuju lapangan diiringi dengan musik gamelan. Kemudian tepat di tengah lapangan sudah dipasang bambu sepanjang sekitar 5 meter. Dari sekitar 10 penari yang berjenis kelamin laki-laki itu, dua diantranya kemudian secara bergantian menaiki bambu, dan beratraksi tepat di ujung bambu tanpa menggunakan pengaman apapun. Tak pelak hal ini, mengundang decak kagum sekaligus “ngeri” para penonton. Bahkan, tak sedikit penonton, yang mayoritas merupakan atlet dirgantara itu, mengabadikan moment tersebut.

 

Baca Juga : Naik Paralayang, Bupati : Sensasinya Luar Biasa

 

Bupati Amin Said Husni mengatakan Tari Pojien ini merupakan kesenian asli Bondowoso. Tari ini biasanya dilakukan untuk merayakan panen, atau khitananserta berbagai kegiatan masaryakat lainnya. Kesenian asli Bondowoso ini sendiri, kata Bupati Amin, biasanya diwariskan secara turun temurun dari setiap penarinya.

“Tapi tidak hanya sekedar latian keterampilan secara jasmani. Tapi ini juga melakukan laku spiritual. Jadi ada doa-doa yang dibacakan, dan ada tirakat yang dpraktekkan sehinggamereka mampu melakukan ini secara baik dan mereka menghayati ini sebagai sebuah bentuk pengabdian,” jelas Bupati Amin didampingi oleh penari Pojien.

Selain, Tari Pojien penonton yang hasir juga disuguhi Tari molong kopi yang dibawakan oleh pelajar-pelajar SMP Negeri 1 Sumber Wringin. (och)