BONDOWOSO – Dinas Pendidikan dan Kebudayan bersama DLLAJ serta Polantas Bondowoso menggelar sosialisasi keberadaan bus sekolah kepada puluhan sopir angkut yang tergabung di paguyuban MPU (Mobil Pengangkut Umum), Rabu (16/5).

Pantauan di lapangan tampak seluruh sopir angkut yang hadir menolak keberadaan bus sekolah. Seperti disampaikan oleh Maswi, Sopir Angkot di Paguyuban MPU Mandiri Arjasa – Bondowoso. Ia menilai bahwa dengan adanya bus sekolah dari Pemkab justru bisa menurunkan pendapatan mereka. Mengingat selama ini mayoritas penumpang yang mereka angkut adalah pelajar. Belum lagi, persaingan mendapatkan penumpang umum dengan PU Jember Indah dan PU Restu Agung.

“Kami mohon dengan sangat untuk memikirkan keadaan situasi dan pendapatan kami yang saat ini sangat memprihatinkan. Sekarang ini, MPU itu untuk mencapai target setoran baru jam 3 sore baru nyampek, kalau nggak nyampek target setoran kami dibebani hutang,” terangnya.

Senada disampaikan oleh Bambang Sugianto dari Paguyuban MPU Jember –Bondowoso. Ia mengharapkan agar bus sekolah yang diadakan oleh pemerintah daerah Bondowoso itu sebaiknya jalurnya jauh dari bidang angkutan umum.

“Terus kalau ini satu masih, terus berapa bulan bekembang-berkembang ditambah-ditambah. Kalau semua jurusan terus dikasih bus sekolah, ya maaf kami keberatan,” urainya.

Baca Juga : Amin Said Husni: Mari Lanjutkan Mata Rantai Perjuangan Ulama

Endang Hardiyanti, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bondowoso, mengatakan, pemerintah daerah mengeluarkan satu bus sekolah dialokasikan untuk siswa-siswi yang tidak mampu secara ekonomi. Apalagi, pelajar yang diangkut pun kapasitasnya terbatas, yakni hanya sekitar 40 orang per hari pulang – pergi dari Maesan – Bondowoso dan Prajekan – Bondowoso.

“Ya kita pelajari (keberatan sopir angkot) kita evaluasi, apa menurunnya pendapatan mereka semata-mata hanya karena bus sekolah, jangan –jangan orang tuanya sudah punya mobil atau sepeda motor jadi di anatar sendiri,” urainya.

Berkaitan dengan agar tidak menambah armada bus sekolah gratis lagi, Endang mengatakan bahwa hal tersebut akan dievaluasi kembali.

“Mereka kita undang, mereka memberi masukan, ya kita pertimbangkan,” urainya.

Sementara itu, Bayu Aji Prabowo, Kasi Angkutan Barang dan Orang, Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan Bondowoso, mengatakan, terkait dengan penurunan omset sopir angkot ini harus diteliti terlebih dahulu. Apalagi, keberadaan bus sekolah gratis ini baru uji coba, yang nanti akan dievaluasi.

“Kan tidak serta merta dari keberadaan bus sekolah gratis,” terangnya.

Namun demikian, pada intinya pemkab Bondowoso menyedikan bus sekolah gratis ini untuk meningkatkan perkeonomian di bidang pendidikan. Yakni  dengan memudahkan murid-murid yang tidak mampu dilayano oleh bus sekolah. (och)