Share


BANYUWANGI – Tim Kerja Advokasi Gerakan Rakyat untuk Kedaulatan Agraria (Tekad Garuda) menilai bahwa penetapan 4 orang tersangka pengibar spanduk berlogo ‘palu arit’ dikenakan pasal karet.

Tersangka, dijerat dengan pasal 107 huruf a Undang-undang (UU) nomor 27 tahun 1999 yang berbunyi, barang siapa yang secara melawan hukum di muka umum dengan lisan, tulisan dan atau melalui media apapun, menyebarkan atau mengembangkan ajaran Komunisme/ Marxisme-Leninisme dalam segala bentuk dan perwujudannya dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun.

Pernyataan tersebut disampaikan Koordinator Tekad Garuda, Abdul Wahid Habibullah. Dia mengatakan, satu hari pasca aksi muncul pernyataan dari pihak aparat keamanan yang menyebut demonstran yang mengibarkan spanduk penolakan terdapat logo yang diduga mirip ‘palu arit’. Hal ini sangat bertolak belakang dengan keterangan warga yang ikut dalam demo tersebut, atas temuan lapangan bahwa tidak satu pun spanduk yang terpasang terdapat logo yang dituduhkan. Selain itu, terkait pasal yang dikenakan, unsur ajaran yang dimaksud dalam pasal tersebut juga masih bersifat perspektif.

“Misalnya, perspektif unsur menyebarkan, mengajarkan itu seperti apa caranya?. Padahal yang mereka lakukan misalnya hanya membentangkan spanduk, itu pun mereka gak tahu logonya. Apakah itu termasuk menyebarkan, mengajarkan. Apa itu komunisme, Marxisme, Leninisme, mereka tidak tahu,” kata Abdul Wahid di Mapolres Banyuwangi, Kamis kemarin lusa.

 

Baca Juga : Bupati Anas Jadi Saksi 112 Pasutri Nikah Massal

 

Kemudian, sambung Abdul Wahid, kalau berdasarkan fakta dilapangan mereka (demontrans) hanya membuat 11 spanduk dan sudah dipasang semua. Sedang pada hari Rabu (26/7/2017) salah satu tersangka, Budi Pego dimintai keterangan tambahan berdasarkan BAP dan petunjuk dari Jaksa terkait apa yang disampaikan Budi Pego kemarin.

“Dua spanduk yang ada logo palu arit itu mereka tidak membuat. Adanya spanduk yang terdapat logo mirip palu arit itu bukan temen-temen yang melakukan aksi yang membuat. Spanduk yang misterius kita gak tahu siapa,” ucapnya

“Sebetulnya polsek tahu ketika saya dan teman-teman waktu membuat sampek pemasangan, polsek pesanggaran itu ngikuti. Kalo disitu sudah ada rekamannya, saya nulis apa ada semua fotonya. Kalau dipanggil saya siap-siap aja, wong saya nggak bikin,” imbuh Budi Pego.

Sementara itu, Kasubbag Humas Polres Banyuwangi, AKP Bakin mengatakan, setelah adanya petunjuk dari jaksa, pihaknya melakukan pemeriksaan tambahan kepada tersangka yang sudah diperiksa sebelumnya kita periksa kembali, dan itu sudah selesai.

“Saat ini masih P-18. Nanti, berkasnya dikembalikan ke JPO, setelah mungkin diteliti kembali, clear setelah itu P-21. Dan tentunya tahap kedua kita lakukan,” kata AKP Bakin.

Saat ditanya terkait pasal yang dikenakan terhadap tersangka, dari versi pengacaranya bahwa dipasal itu menyebutkan ‘menyebarkan ajaran’ Apakah logo itu termasuk menyebarkan ajaran?

“Mau mengajarkan atau menyebarkan mau paham lain, penyidik punya pasal tersendiri, itu kan penafsiran pengacara, haknya pengacara dong. Membela si klien nya. Penyidik punya penafsiran sendiri, pasal dikenakan pada yang bersangkutan. Bukti-bukti sudah kita miliki semua dan kita sita. Hanya JPO kemarin memberikan P-18 dalam arti kata penyidik membutuhkan keterangan kembali,” pungkasnya. (mam)