Hakim tunggal pra peradilan Pujo Saksono Dalam perkara Praperadilan Herny J Gunawan di Pengadilan Negeri,Surabaya kemarin.

SURABAYA – Upaya perlawanan yang dilakukan Herny J Gunawan melalui permohonan pra peradilan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya akhirnya kandas. Hakim tunggal pra peradilan Pujo Saksono, menyatakan permohonan pra peradilan tersebut Gugur Demi Hukum (GDH).

Hakim Pujo mengatakan tidak ada alasan atau dalil-dalil hukum yang kuat untuk mengabulkan permohonan pra peradilan yang dilayangkan Henry J Gunawan melalui tim kuasa hukumnya, M Sidik Latuconsina.

“Gugurnya permohonan pra peradilan tersebut berdasarkan materi pokok perkara, landasan hukum yang kuat, mengacu pada pasal 82 ayat 1 huruf D KUHAP,” katanya saat membacakan amar putusannya di ruang sidang Kartika 2.

Menurutnya apabila diterimanya permohonan pra peradilan tersebut, tentunya akan mengganggu proses pemeriksaan materi pokok perkara yang saat ini telah disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

“Menyatakan permohonan pra peradilan Henry J Gunawan Gugur Demi Hukum,” ujarnya sembari mengetukkan palu sebagai tanda berahkirnya persidangan.

Sementara, Kuasa hukum Henry J Gunawan M Sidik Latuconsina mengaku masih belum bersikap atas putusan ini.

“Saya harus informasikan dulu ke klien, apakah klien mau lakukan upaya hukum atau tidak,”ujarnya usai persidangan.

Kendati demikian, ditambahkannya jika putusan pra peradilan tersebut bukanlah final. Sesuai pasal 81 KUHAP, pihaknya bisa saja melakukan upaya hukum.

“Mahkamah Agung tidak boleh menolak,” pungkasnya.

 

Baca Juga : Bos PT Gala Bumi Perkasa (GBP) Akhirnya Menjalani Sidang Perdana

 

Seperti diketahui, permohonan pra peradilan yang dilayangkan Henry J Gunawan terhadap Kejati Jatim dan Kejari Surabaya tersebut tentang tidak sahnya penetapan tersangka Henry J Gunawan sebagai tersangka kasus penipuan dan penggelapan. Henry juga masalah penahanannya. Tidak dikirimkannya tembusan surat perintah penahanan ke keluarga juga dipermasalahkan.

Kasus penipuan dan penggelapan ini dilaporkan oleh Notaris Caroline C Kalampung. Saat itu, Notaris Caroline mempunyai seorang klien yang sedang melakukan jual beli tanah sebesar Rp 4,5 miliar. Setelah membayar ke Henry, korban tak kunjung menerima Surat Hak Guna Bangunan (SHGB).

Namun, Saat korban ingin mengambil haknya, Henry J Gunawan mengaku bahwa SHGB tersebut di tangan notaris Caroline. Setelah dicek, Caroline mengaku bahwa SHGB tersebut telah diambil seseorang yang mengaku sebagai anak buah Henry. Ternyata, SHGB itu ternyata dijual lagi ke orang lain oleh Bos PT Gala Bumi Perkasa itu dengan harga Rp 10 miliar.(sga)