Share

 

SURABAYA – Gara-gara nekat ngutil pakai, dua ibu rumah tangga (RT) yang belakangan diketahui bernama Tri Dian Agustin (38), warga Jalan Wonosari dan Maysaroh Ulfa Dwi (34), warga Jalan Kalimas Baru Surabaya harus rela berpisah dengan keluarganya. Akibat perbuatannya ini, keduanya harus merasakan pengapnya ruangan di balik jeruji besi.

Keduanya terpaksa ditangkap polisi karena diketahui ngutil ngutil puluhan pakaian di Matahari Departemen Store Kaza, tepatnya di Jalan Kapas Krampung Surabaya, Minggu (20/08) yang lalu.

Hal ini disampaikan Kapolsek Simokerto Surabaya, Kompol Masdawati Saragih. Menurutnya, dalam menjalankan aksinya, kedua tersangka terlebih dulu janjian ketemu di area Kaza kemudian keduanya langsung masuk Matahari Departement Store Kaza dengan berpura-pura belanja dan memilih baju-baju.

“Dua ibu ini telah menyiapkan tas kresek bertuliskan Matahari, lalu memasukan aneka pakaian dan mainan ke tas yang dibawanya tadi,” katanya di Mapolsek Simokerto Surabaya.

Setelah kedua tersangka ini puas mengambil pakaian, dijelaskannya kedua tersangka tidak ke kasir, melainkan langsung keluar dengan membawa hasil curian. “Kedua tersangka ini tidak sadar kalau aksinya telah terekam kamera CCTV. Keduanya pun akhirnya dengan mudah diamankan oleh Satpam mall kemudian diserahkan ke petugas Kepolisian,” jelasnya.

Sementara itu tersangka Tri Dian Agustin mengaku terpaksa melakukan pencurian karena tidak punya uang dan tidak bekerja. “Saya ingin membeli tetapi saya tidak bekerja, pak. Pakaian ini rencananya saya pakai sendiri dan buat yang di rumah kok pak,” katanya di depan penyidik sambil menghapus air matanya yang keluar.

Dari kedua tersangka ini, ditambahkannya telah diamankan barang bukti berupa 5 boks celana dalam laki-laki, 4 celana pendek anak, serta 7 celana dalam wanita, 2 celana panjang anak, 2 rok, 2 BH, 6 baju dalam wanita,2 baju wanita dan 3 mainan anak.

“Dalam pengembangan tersangka mengakui telah dua kali mencuri pakaian di Kaza dan juga Surabaya Plasa.Tersangka kami jerat dengan pasal 363 dengan ancaman pidana maksimal 7 tahun penjara,” pungkasnya. (sga)