Share

BONDOWOSO – Dinas Kesehatan Bondowoso mengadakan pemberian vaksin atau imunisasi difteri secara serentak melalui gerakan ‘Outbreak Respons Immunization’ (ORI) putaran kedua pada bulan Juli dan Agustus 2018. Hingga saat ini cakupan pemberian vaksin ini sudah mencapai sekitar 51 persen.

Kepala Humas Dinkes, Sugianto, melalui Tuhu Suryanto, Kepala Seksi Survelance Imunisasi, Dinkes Bondowoso, mengatakan, sasaran kegiatan ORI putaran kedua kali ini yakni usia 1-19 tahun, dengan jumlah sekitar 200ribuan.

“ORI itu dilakukan tiga kali putaran pertama sudah pada bulan Februari-Maret. Saat ini putaran kedua yang berlangsung Juli-Agustus, dan putaran ketiga pada November-Desember mendatang,” ujarnya pada Memo Indonesia.

Lebih jauh, Tuhu menerangkan, cakupan minimal dari imunisasi difteri tahap kedua ini harus 90 persen. Karena, harapannya dengan minimal 90 persen itu, selain bisa melindungi diri sendiri, juga bisa melindungi komunitas secara umum.

Saat ini, Dinkes terus melakukan imunisasi dengan mendatangi sekolah-sekolah. Di samping itu juga jemput bola dengan datang ke rumah warga yang telah masuk di dalam data Dinkes, by name by addres.

Baca Juga : Dua Desa di Bondowoso Alami Kekeringan

Menurutnya, sekarang imunisasi ini diisukan terkait halal haramnya. Di Bondowoso pun juga ada yang menolak, karena isu ini, namun dipastikan bukan dari institusi melainkan orang perorangan.

“Ada di Bondowoso, tapi nggak banyak lah, cuma sedikit,”tambahnya.

Ia menambahkan, penyakit difteri sangat mudah menular, dan berbahaya. Ada dua cara penularan penyakit ini, yakni melalui percikan udara, dengan gejala nyeri tulang, demam tidak terlalu tinggi, ada bercak putih di tenggorokan.

Karena itu, masyarakat harus menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Di antaranya tidak meludah sembarangan, rajin cuci tangan, makan makanan bergizi, dan hidup sehat lainnya. Di samping itu, pentingnya untuk seluruh masyarakat memberikan vaksin rutin, dari bayi usia dua tahun hingga usia anak sekolah.

“Kalau itu cakupannya (Vaksin ruitn) tinggi, maka tidak aka nada KLB,”imbuhnya.

Sementara itu, data dari Dinas kesehatan menyebutkan kasus difteri di Bondowoso tahun ini (Hingga Agustus 2018) menurun menjadi dua kasus, dari tahun 2017 yang mencapai tiga kasus. Bondowoso pernah mengalami KLB (Kejadian Luar Biasa Difteri) pada tahun 2011 dengan 45 kasus, tiga diantaranya meninggal dunia. (och)