Share

BONDOWOSO – Jumlah penderita HIV AIDS selama kurun waktu dua tahun mulai 2016, mencapai 364. Lima di antaranya merupakan suspect HIV Aids, dan 104 orang telah meninggal dunia. Sementara dalam dua bulan terakhir, Januari-Februari 2018, jumlah ODHA ini bertambah 15 orang.

Siwin Soleha, Ketua Yapikma (Yayasan Pemberdayaan Intensif Kesehatan Masyarakat), mengatakan peyebaran ODHA ini merata di 23 kecamatan di Bondowoso. Bahkan ada empat kecamatan yang penderita HIV Aidsnya cukup memprihatinkan.

“Wilayah terbanyak kalau menurut data terbanyak menurut Yapikma itu, di kecamatan Tenggarang, terus sekarang mulai tinggi itu ada di kecamatan Maesan, ada di Sumber Wringin, dan ada juga di Wringin,” jelasnya.

Ada pun penularan ODHA di Bondowoso ini tertinggi disebabkan karena hubungan seksual berganti-ganti pasangan.

“Biasanya kerja dari luar kota terus pulang ketemu istri bertemu melakukan hubungan seksual, terus dia nggak sadar bahwa telah terinfeksi. Pada akhirnya menularkan ke bayi atau anak yang dikandung,” jelas Siwin.

Baca Juga : Penderita HIV AIDS Meningkat Setiap Tahunnya Plus Didominasi Pria

Ia mengaku sejauh ini Dinas Kesehatan di Bondowoso telah memiliki program-program terkait dengan penyuluhan. Melalui programer-programer di setiap Puskesmas yang memberikan pendampingan dan penyuluhan kepada masyarakat. Hanya saja, pemahaman masyarakat terhadap HIV Aids ini masih rendah. Terlebih lagi, tidak semua masyarakat mudah untuk diadvokasi terkait dengan HIV Aids.

Yapikma sendiri sejauh ini juga telah melakukan penjangkauan, penyuluhan, dan pendampingan. Seperti mendampingi ODHA bagaimana bisa mendapatkan ARV di rumah sakit.

Sinung Sudrajat, Anggota Komisi IV DPRD Bondowoso, menguraikan, pihaknya mengharapkan agar pemerintah daerah lebih intensif lagi dalam memberikan sosialisasi penanggulangan kepada masyarakat. Selain itu, pentingnya untuk segera memebenahi Perda yang sudah ada menjadi Perda penanggulangan penyakit menular.

“Bukan hanya Perda HIV Aids sendiri, TBC sendiri. Tapi ketika ada kejadian luar biasa yang terkait dengan penyakit menular kita sudah sia, sudah ada aturannya yang memayungi,” tegasnya.

Baca Juga : Pengidap HIV/AIDS Terus Bertambah, Terbanyak Ibu Rumah Tangga

Tak kalah penting, kata Sinung, yakni perlunya juga untuk menambah jumlah anggaran di dalam APBD untuk penanggulangan HIV Aids. Karena kata Sinung, jumlah Rp 100juta untuk penanggulangan HIV Aids sangatlah kurang. Ia meperkirakan minimal perlu dianggarkan Rp 350 juta per tahun, jika merunut pada data yang ada.

“Seingat saya sekitaran Rp 100 juta, dan itu sangat minim dengan kondisi yang ada. Mumpung masih belum menjadi KLB masih ada kesempatan untuk antisipasi,” pungkasnya. (och)