Share

JEMBER – Penyakit hydrosephalus (kepala air) yang diderita Yuke Nurwitasari, seorang bocah asal Jember, Jawa Timur, ini membuatnya harus terbaring di rumah sakit. Setelah berbulan-bulan, akhirnya bocah ini dioperasi di RS Soebandi Jember.
Tidak seperti bayi normal lainnya, saat dalam kandungan, bayi dari rahim Muiseh ini telah dideteksi memiliki kelainan. Setelah lahir, kurang lebih di umurnya yang tiga bulan, mulai nampak kelainan pada bentuk kepala. “Kepalanya mulai agak membesar dan bengkak” tuturnya pada memoindonesia.com,Sabtu (18/3/2017) .

Sekalipun memiliki kelainan, kondisi anak dari pasangan Mohammad Nasir dan Muiseh ini, dalam kesehariannya tergolong bocah yang sehat dan normal, kecuali pada bagian kepala saja. Kedua orang tuanya menjelaskan bahwa bayi mereka aktif seperti bayi yang lain, hanya saja sering mengalami demam dan sakit di kepala.

Awalnya mereka memeriksakan kandungannya di Rumah Sakit Ajung, Kalisat-Jember. Dari sana mereka mendapatkan hasil pemeriksaan bahwa bayi di dalam kandungan memiliki kelainan. Setelah kelahiran bayi dengan kelainan tersebut, Nasir pernah sekali membawa anaknya ke Rumah Sakit Soebandi dan disarankan untuk operasi oleh pihak rumah sakit. Karena terkendala dengan biaya operasi yang mahal, dia pun mengurungkan niatnya untuk mengobati sang anak.

Semenjak itu, pasangan asal Sumber Pakem-Silo ini merawat balitanya semampu mereka tanpa bantuan medis. Setelah itu, keberadaan bayi dengan kepala membengkak itu diketahui oleh pihak Pemerintah Desa Silo dan dicarikan jalan keluar untuk mengobati balita tersebut.

Akhirnya, setelah beberapa proses administrasi yang ditangani oleh pihak desa dan beberapa orang simpatisan, dibawa menuju ke RS Soebandi untuk menjalani perawatan intensif.

“Ada Pak Kades, istrinya, Pak Martono dan Bu Lilik. Mereka yang mengantar kami dengan mobil ke sini,” tutur Nasir.

Dia menyebutkan bahwa pihak Desa Silo dengan kedua simpatisan itu yang mengurusi administrasi beserta rekom ke pihak rumah sakit. Sehingga, mulai dari perawatan, pengobatan dan sampai pada operasinya sampai saat ini gratis.

Nasir, yang hanya bekerja sebagai tukang cangkul di sawah dan terkadang juga menjadi tukang angkut kayu di kampungnya merasa sangat bersyukur dan bahagia, karena sang buah hati sudah bisa ditangani dengan baik.

Saat ditanya tentang keluhan yang ada, pasangan ini menyebutkan bahwa mereka bingung untuk membeli makan. “Pak Kades kasih kami uang 400 ribu buat makan saya dan istri. Tapi sekarang sudah mau habis, kami bingung mau gimana,” keluhnya.

Sampai saat ini, keluaga tersebut sudah berada di Kamar Rawat Gardena nomer 7 selama enam hari. Belum ada keputusan dari pihak rumah sakit terkait kapan Yuke diperbolehkan untuk pulang.

Selain itu, Muiseh yang kesehariannya hanya sebagai ibu rumah tangga mengharapkan bahwa selepas dari rumah sakit ini, anaknya masih bisa mendapat bantuan sosial dari banyak pihak. “Kata dokter, setelah operasi masih harus sering diperiksa dan diobati. Kami khawatir biayanya mahal dan kami gak bisa bayar. Saya kerjanya cuma nyangkul,” pungkasnya. (hus/esb)