Share

BONDOWOSO – Video yang menjadi viral di media sosial (medsos) yang menyebutkan “sepanjang-panjangnya tanah” dalam proyek irigasi adalah tidak benar. Video viral berdurasi kurang lebih dua menit itu belakangan diketahui merupakan pekerjaan Irigasi Bangunan Saluran Komadu di Desa Kupang, Kecamatan Pakem. Hal ini ditegaskan Yadi, salah satu pelaksana proyek CV Gesya Anugrah saat ditemui di lokasi proyek tadi pagi, Selasa (18/9).

Menurutnya, pengambilan video yang menjadi viral itu berada di titik potong (TP) 2 dan ukuran yang dibongkar karena ditengarai bercampur tanah kurang lebih 50×30 cm dan tak jauh dari bongkaran ini juga terdapat bongkaran yang sama dan ukurannya lebih kecil, diperkirakan hanya 30×30 cm. Namun, tidak ditemukan adanya bongkaran lain selain dua titik tersebut.

“Hanya dua titik di TP2 yang dibongkar karena ditengarai bercampur tanah dan akhirnya menjadi viral di medsos. Itupun ukurannya kecil antara 50×30 serta satu bongkaran lainnya berkisar 30×30 dan tidak dalam. Jadi, kata-kata ‘sepanjang-panjangnya’ yang disebut dalam video yang beradar tidak benar,” ujarnya.

Bahkan, dia juga menunjukkan bekas campuran pasangan yang sudah dibongkar agar dipecah dengan tangan. Namun, tidak ada satupun yang berhasil memcah bekas pasangan itu dengan tangan. “Kalau ini bercampur tanah, pasti dengan mudah dipecah dengan tangan. Buktinya, kalian bisa lihat sendiri barusan,” tambahnya.

 

Baca Juga : Jalankan Rekomendasi Inspektorat, Proyek Irigasi Dibongkar

 

Meski dirinya meyakini tidak semuanya bercampur tanah, akhirnya pihak pelaksana terpaksa menjalankan rekomendasi inspektorat untuk dibongkar. Pembongkaran total untuk TP2 dengan panjang 11 meter pun dilakukan dan membutuhkan waktu selama tiga hari. Hingga hari ini, pekerjaan ulang pun dilakukan dan sudah berjalan selama tiga hari.

“Untuk pombongkaran saja kemarin membutuhkan waktu tiga hari. Sekarang masih dikerjakan ulang sudah tiga hari belum 50% khusus di TP2 saja. Bagaimana lagi, kami hanya menjalankan rekomendasi inspektorat meski tidak semuanya bercampur tanah,” sambungnya.

Saat Memo Indonesia memantau di lokasi, pekerjaan terus dilakukan sejak direkomendasikan untuk dibongkar. Sejumlah wartawan membutuhkan waktu sekitar satu jam dari arah kota dan menyusuri jalan tak beraspal untuk sampai ke lokasi. Bahkan, harus berjalan kaki yang jauhnya terasa belasan kilo meter.

Belasan pekerja pun terlihat sibuk dengan tugasnya masing-masing. Ada yang mengangkut batu, ada yang mengangkut pasir, juga ada yang mengangkut semen serta ada pula yang membuat campuran pasangan dan lainnya.

Jarak menuju lokasi yang cukup jauh dan tidak bisa dijangkau dengan kendaraan itu membuat material bangunan diangkut dengan manusia dan digelundungkan dari ketinggian. Sehingga pekerjaan irigasi ini membutuhkan waktu lama dan  tenaga ekstra.

“Pekerja tentu harus bekerja ekstra dengan medan yang sangat sulit ini. Meski harus dibongkar dengan biaya sendiri tidak masalah, kami hanya ingin membuktikan apa yang menjadi viral itu tidak benar. Biar ini menjadi ibadah bagi yang bekerja dan kami pasrahkan pada Allah,” pungkasnya. (ron)