Share

JEMBER – Universitas Jember (Unej) mengadakan Sarasehan Produk Unggulan Desa di gedung Soetardjo yang dihadiri Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Senin (10/7) tadi pagi. Unej juga mendatangkan berbagai narasumber, salah satunya dari Pemkab Bondowoso yang dihadiri oleh Sekda, Drs. H. Hidayat, M.Si.

Dalam penyampaiannya, Sekda memaparkan apa yang menjadi pengalaman Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso dalam melakukan pendampingan terhadap desa. Utamanya, pendampingan yang dilakukan oleh tim Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan (Kompak) dan Universitas Jember. Di sinilah, pemerintah juga hadir di tengah masyarakat dan berperan aktif dalam mendukung program desa.

“Kehadiran kampus Unej di Bondowoso dan keberadaan tim Kompak membuat pemerintah sangat terbantu. Alhamdulilah, IPM Bondowoso masih di atas Jember dan kabupaten samping lainnya,” ujar Sekda, Drs. H. Hidayat, M, Si tadi siang.

Saat ini, melalui Kompak, lanjut Sekda, ada 10 desa yang memberlakukan Sistem Administrasi dan Informasi Desa (SAID) berbasis partisipatif yang merupakan platform teknologi informasi komunikasi untuk mendukung pengelolaan sumber daya komunitas di tingkat desa. 10 Desa ini akan menjadi pilot project realisasi program SAID Kompak. Dan tahun depan, pihaknya optimis semua desa akan memberlakukan SAID.

 

Baca Juga : Tingkatkan Kualitas Tata Kelola Desa, Bondowoso Andalkan SAID

 

“Program SAID ini tentunya menciptakan kondisi Pemerintahan Desa dengan tatakelola pemerintahan lokal yang kuat, demokratis, akuntabel dan transparan serta tetap pada keberpihakannya pada orang miskin, kelompok marginal dan perempuan, melalui usaha maksimal,” sambungnya memperkenalkan apa yang dilakukan Pemkab selama ini.

Sekda menjelaskan, bahwa SAID tersebut bertujuan untuk memudahkan masyarakat mengakses kebutuhan berupa surat menyurat dan mengurangi angka kemiskinan yang ada di Bondowoso. Dimana dengan sistem ini, desa bisa menampilkan potensinya secara online dan terintegrasi. Bagi pemerintah desa, program SAID merupakan barang baru dan perlu terus diadakan kajian dan evaluasi.

“Pemerintah memang tengah gencar melakukan peningkatan pada berbagai sektor. Hal itu tidak lain karena adanya cita-cita untuk terbebas dari zona daerah tertinggal. Saat ada Non Goverment Organisation (NGO) yang ikut mendorong peningkatan SDM, tentu kami sangat menyambut baik karena dampaknya bisa dirasakan. Salah satunya seperti kehadiran Kompak di Bondowoso saat ini,” terangnya.

Sementara Ketua Panitia, Ali Badrudin mengatakan bahwa acara ini diadakan se Besuki Raya. Hanya saja, ada beberapa kabupaten yang bisa hadir. Ini dalam rangka memberikan suatu manfaat tentang bagaimana desa mampu memunculkan beberapa produk unggulannya.

“Apabila desa sudah mampu memunculkan produk unggulannya,  desa juga bisa mendongkrak ekonomi masyarakatnya,” ujarnya. (mam/ron)