Share

BONDOWOSO – Rencananya transformasi pembayaran parkir menuju digital di Bondowoso disebut masih belum banyak diminati.

Kendati sebenarnya pembayaran non tunai menggunakan QRIS ini, pun telah diikuti dengan semua juru parkir yang turut sudah dilengkapi dengan peralatan yang dibutuhkan.

Transformasi pembayaran parkir melalui QRIS ini, dikatakan langsung oleh Agus Suwardjito, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Bondowoso dikonfirmasi beberapa waktu lalu.

Menurutnya, pembayaran parkir untuk kendaraan di Kota Tape, menggunakan sistem berlangganan. Artinya ketika pembayaran pajak kendaraan rutin, juga disertai dengan pembayaran parkir berlangganan.

Oleh sebab itu, seharusnya tidak perlu lagi ditarik biaya, ketika kendaraan tersebut berada di parkiran umum.

Sementara untuk kendaraan dengan plat luar Bondowoso, lanjut Agus, tetap akan dikenakan biaya atau karcis. Pembayaran tersebut disebut dengan parkir umum mandiri. Hal inilah yang pembayarannya tidak lagi dilakukan secara manual, melainkan melalui QRIS.

“Kendaraan plat luar, yang parkir di tempat kami. Bisa bayar dengan scan barcode yang sudah disediakan,” katanya.

Baca Juga : Kalapas Bondowoso Berganti, Wabup Irwan Minta Tetap Perkuat Sinergitas

Namun jika yang bersangkutan kesulitan memakai pembayaran ini, misal karena tidak memiliki M-Banking dan lain sebagainya. Petugas parkir tetap diperbolehkan untuk membayarkan melalui alat yang sudah disediakan.

“Kalau mau cash, ya nanti jukir (Juru Parkir, red) yang akan membayarkan di QRIS,” tegasnya.

Selain itu, Agus juga mengaku, sudah melengkapi alat yang dibutuhkan oleh para Jukir. Bahkan, setiap petugas sudah dilengkapi dengan barcode QRIS dan M-Banking masing-masing.

Langkah tersebut dianggap lebih efektif dan efisien, dalam meningkatkan capaian retribusi parkir. Mengingat tahun 2023 mendatang, jumlahnya akan ditingkatkan.

Namun sebelum menarik retribusi, para jukir diharuskan memberikan karcis dengan tarif yang sudah ditentukan sebelumnya. Meski begitu, dia tidak menampik bahwa di Bondowoso memang masih marak, jukir liar yang masih beroperasi.

“Kalau yang resmi ada 134 jukir. Tersebar di wilayah kota dan pasar kecamatan,” pungkasnya. (Och)