Share

 

BONDOWOSO – Angka stunting dan gizi buruk di Bondowoso cukup memprihatinkan. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan, tahun 2018 saat bulan timbang Februari 2018, jumlah balita dengan stunting mencapai 22.88 %  persen dari total  balita 45.956 yang lahir di kota tapai ini. Jumlah ini di dapat setelah dilakukan bulan timbang oleh Dinkes selama Februari  2018.

“Dari hasil survey PSG tahun 2017 ada 38,3 % balita stunting di kabupaten Bondowoso . Jadi tidak semua balita diukur, itu hanya pakai sampling saja. Bulan timbang di laksanakan pada bulan Februari dan Agustus, tapi pelaksanaan buka posyandu dilakukan tiap bulan .Dengan adanya bulan timbang ini kita bisa memantau kondisi bayi dan balita. Sehingga, ditemukan hasilnya 22,88%  pada bulan Februari 2018 ,” demikian disampikan oleh dr. Titik Erna Erawati, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Bondowoso, pada Memo Indonesia.

Baca Juga : Sempol Buka “Etalase” Potensi Seni, Budaya, dan Kerajinan

Kondisi yang memprihatinkan ini sebenarnya telah ditekan melalui berbagai upaya, mulai dari hulu yakni pemberian tablet FE (tablet tambah darah ) yg rutin di berikan pada remaja putri tiap minggu 1 tablet, pemberian informasi tentang 1000 hari pertama kehidupan ( 1000 HPK ). Di sisi lain juga, dilakukan kegiatan emo demonstration, yakni pemberian informasi, edukasi kepada masyrakat dengan melibatkan ibu balita dan masih banyak lagi.

Namun demikian, sejumlah faktor lainnya masih menghantui upaya penekanan angka stunting. Seperti, pengetahuan masyarakat tentang pola  asuh yg sangat kurang. Kemudian kepedulian masyarakat tentang pentingnya ASI, dan faktor lainnya.

“Kalau di Bondowoso banyak faktor ya, bukan hanya dilihat dari sisi kesehatan saja,”urainya.

Karena kondisi inilah, akhirnya Desa Jampit di kecamatan Ijen menjadi pilot project untuk program Pos Gizi Kita, atau CFC (Comunity Feeding Center ) yang melibatkan kegiatan masyarakat dalam memberikan pemahaman tentang promotive, preventif dan kuratif dalam penanggulangan dan pencegahan gizi buruk dan stunting pada balita.

Bentuk Kegiatannya, yakni jemput bola dengan berkeliling ke Posyandu menerapkan program KP ASI (Kelompok Pemantau ASI), Kampung ASI, Dusun Kadarzi (keluarga Sadar Gizi).

“Pos kita ini sasarannya adalah ibu hamil dan ibu balita. Karena disiapkan agar setelah melahirkan bayi balitanya bisa tumbuh berkembang secara optimal dengan pola asih, asuh, dan asah yang bagus,”tindihnya.

Ia menerangkan bahwa Pos Gizi Kita di desa Jampit sebenarnya juga inisiasi dari Pemdes yang memberikan lima persen APBDes untuk mendukung kegiatan ini.
“Harapan kami ke depan Pos Gizi Kita ini bisa berkembang juga di desa-desa lain di Bondowoso,”pungkasnya.(och)