Share


BONDOWOSO – Bantuan operasional Madrasah Diniyah (Bosdamadin) di Kabupaten Bondowoso ditambah menjadi 12 bulan. Yakni enam bulan dari Pemprov Jatim, dan sisanya dari pemerintah daerah. Sementara sebelumnya, Bosdamadin hanya diberikan untuk delapan bulan.

Hal ini disampaikan oleh Bupati Salwa Arifin saat menyampaikan sambutan dalam acara Pengukuhan dan Pelantikan Dewan Pengurus Cabang dan Pengurus Anak Cabang Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah Bondowoso tahun 2019-2024 di Pendopo Bupati, Senin (26/1).

Ia menerangkan bahwa tambahan ini sebagai bagian dari apresiasi dan penghormatan kepada guru madin di Bondowoso. Di samping itu, pihaknya juga ingin guru madin bisa mendapatkan setidaknya hak yang sama dengan guru lainnya yang sama-sama mentransfer ilmu kepada generasi bangsa.

“Karena kita bandingkan sesama guru, ijazahnya sama tapi kok jauh. Sama-sama transfer ilmu tapi kok jauh berbeda. Makanya kami tambah itu,” ujarnya.

Suharyono, Kepala Seksi Pendidikan Pondok Pesantren, Kemenag Bondowoso, menerangkan di Bondowoso ada 904 Madin yang masing-masing memiliki santri berbeda. Oleh karena itu jumlah Bosdamadin yang diterima pun juga berbeda. Namun demikian, untuk 2019 ini pihaknya masih belum bisa menyebutkan berapa jumlah dana yang akan diterima.

“Jadi tiap tahun kan berbeda, jadi tergantung juga Bosdamadin dari Provinsi berapa, dan yang disediakan daerah berapa,anggarannya. Kemudian disesuaikan dengan jumlah santri yang ada. Jadi ada proporsional berapa,” kata Suharyono.

Ia memperkirakan anggaran tahap awal atau anggaran enam bulan dari Pemerintah provinsi akan cair pada bulan April atau Mei 2019.

“ Kalau tahun 2018 itu dapat sekitar Rp 450 ribu per santri untuk delapan bulan,”ujarnya.

Menurutnya dana Bosdamadin ini digunakan oleh lembaga atau diniyah untuk pengembangan guru dan kebutuhan santri.
“Jadi istilahnya untuk pengambangan bagaimana Madin itu bisa lebih baik lagi,”pungkasnya.(och)