BONDOWOSO – Muhammad Imron, Kepala Dinas Kesehatan Bondowoso mengakui bahwa tenaga kesehatan yang masih berstatus tenaga suka relawan (sukwan) sudah overload, melebihi dari jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tenaga kesehatan yang sukwan jumlahnya hampir 80 persen di Puskesmas. Salah satu contoh di Puskesmas yang jumlah PNS-nya 38 orang, tenaga sukwannya 72 orang.

Menurutnya, apabila kondisi ini tidak cepat diatasi, akan menjadi problem baru, yakni bertambahnya kebutuhan anggaran sebagai honor tenaga sukwan. Padahal anggaran tersebut selama ini diambilkan dari hak-haknya para tenaga kerja yang PNS.

“Bukan tidak mungkin suatu saat yang PNS malah berontak dan ini menjadi bom waktu juga. Selama ini jumlah sukwanya 1 setengah sampai dua kali lipat jumlah PNS. Mulai dari perawat, Bidan dan administrasi,” jelasnya.

Oleh karena itulah, Dinas kesehatan rencananya akan melakukan rasionalisasi atau pengurangan tenaga sukwan. Rencananya, rasionalisasi ini akan dilakukan usai Pilkada 2018.

Baca Juga : Hari Pertama Pendaftaran Bacaleg PKB, Langsung Diserbu Pendaftar

Adapun rasionalisasi sendiri, akan dilakukan melalui  Puskesmas. Karena yang lebih tahu keadaan tersebut adalah Puskesmas, maka semua penilaian di serahkan kepada Puskesmas. Tentunya yang berkaitan dengan keterampilan, skil, pengetahuan, etika dan masa sukwan yang murni akan dinilai oleh Puskesmas.

“Misalnya di puskesmas itu sukwannya ada 70 orang berdasarkan kebutuhan kerja hanya ada 30 orang. Maka yang 40 orang siap untuk di berhentikan,” jelasnya.

Adapun tenaga sukwa yang akan diberhentikan bila seorang bidan serta perawat akan didorong untuk memproses STR-nya agar dia bisa segera membuka praktek secara mandiri.

“Kalau sudah mempunyai STR maka bisa bergabung dengan bidan-bidan yang lain secara mandiri yang mempunyai tanggungjawab di Puskesmas maupun di Dinkes. Kita harus melakukan hal ini karena jumlahnya sudah sangat melebihi kapasitas,” pungkasnya. (Och)