BONDOWOSO – Bupati Amin Said Husni melaunching program  ‘Stop Berduka’ (Sinergi Total Pencegahan Bersalin di Dukun Bayi dan Selamatkan Ibu) , di Aula Ijen View Hotel, Rabu (24/1). Program stop berduka merupakan bentuk upaya pemerintah Bondowoso untuk menekan angka kematian ibu dan bayi yang relatif masih tinggi. Sekaligus untuk meningkatkan rakor indeks pembangunan manusia, yang salah satu komponennya yakni kesehatan masyarakat.

Berdasar data dihimpun, jumlah kematian ibu dan bayi selama kurun waktu dua tahun terakhir mengalami penurunan. Pada 2016 jumlah kematian ibu ada 20, dan kematian bayi 178. Sedangkan pada 2017, angkakematian ibu menurun jadi 15, dan angka kematian bayi menjadi 140. Walau pun terjadi penurunan, jumlah ini masih akan terus ditekan sedini mungkin.

Bupati Amin Said Husni menguraikan, masih tingginya angka kematian bayi dan ibu disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, karena terjadi persalinan yang ditolong oleh dukun beranak pada kondisi yang mendesak dikarenakan kondisi geografis yang sulit, infrastrutur yang kurang mendukung, serta persepsi ibu yang masih percaya kepada dukun.

“Ini yang perlu terus disosialisasikan sarpras harus terus diperbaiki dan disempurnakan. Agar setiap terjadinya persalianan agar bisa ditolong dan dberikan bantuan secara cepat dan juga diberikan sarpras yang memadai sehingga persalinan yang terjadi betul-betul persalinan yang aman,” jelasnya.

Faktor kedua yakni masih tingginya tingkat pernikahan usia dini. Padahal anak-anak yang menikah di usia dini secara mental, fisik dan jasmani, bahkan mungkin secara ekonomi, sosial masih belum siap.

“Konon jika seseorang itu hamil pada usia yang belum waktunya, itu akan terjadi perebutan nutrisi di dalam tubuh, antara si ibu dan si jabang bayi,” jelasnya

Baca Juga : Sidak ke Jembatan Ki Ronggo, Komisi III Nilai Layak Jadi Wisata Kuliner

Oleh karenanya dalam program “Stop Berduka” ini, telah direplikasikan kemitraan antara bidan dengan dukun beranak. Melalui kemitraan ini, dukun tidak boleh membantu proses persalinan, mereka hanya bisa menganjurkan pasien yang hendak melahirkan kepada bidan. Dari setiap pasien yang diantar ke bidan, dukun bisa memperoleh insentif Rp 50ribu. Selain itu, dukun juga diberi peran pasca persalinan.

“Karena sekarang dukun tidak boleh lagi membantu proses persalinan, tapi dukun ini kan merupakan produk dari kearifan lokal yang tidak boleh kemudian dihapus. Oleh karena itu, maka persalinan itu dilakukan oleh bidan, sementara dukun diberikan peran pasca persalinannya. Membantu ibu selama nifas, kemudian juga perawatan bayi, mandiin apa segala macem, dan itu dapat income dari bidannya,” jelasnya.

Hingga saat ini, data dari Dinkes menyebutkan bahwa jumlah dukun yang telah bermitra dengan bidan yakni 438 orang.

Sementara terkait faktor pernikahan dini, kata Bupati Amin mengatakan, disebabkan oleh faktor budaya. Ada anggapan bahwa anak remaja kalau sudah umur 16 tahun tapi belum bertunangan, keluarganya khawatir anaknya dianggap tidak laku. Karena itulah, perlu merombak mindset masyarakat

Tampak hadir dalam acara launching tersebut di antaranya, Sekertaris Daerah Hidayat, Kapolres Bondowoso AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi, Komandan Kodim 0822 Bondowoso Letkol Inf. Tarmuji, Ketua MUI Bondowoso KH. Asya’ari Fasya, Koordinator Pelayanan Terdepan Kompak Jawa Timur, Kurniawan, Kepala Kementrian Agama Bondowoso, Kepala Kejari Bondowoso, Pimca Bank Jatim . Kemudian juga hadir seluruh Kepala Desa dan bidan termasuk ratusan dukun beranak. (och)