BONDOWOSO – Stok pupuk bersubsidi jenis SP36 di kios-kios di Kabupaten Bondowoso telah habis. Ini terjadi karena terdapat perubahan perilaku petani, terutama petani yang menjalin kemitraan.

Dalam kemitraan petani dianjurkan untuk menggunakan pupuk SP36 lebih banyak, agar bisa menghasilkan tanaman yang lebih baik. Sementara, pada alokasi pupuk bersubsidi tahun sebelumnya, terjadi kelebihan stok pupuk SP36. Artinya, petani sangat sedikit dalam menggunakan pupuk SP36.

“Tahun lalu kita diberi jatah nggak habis. Sehingga Provinsi menganggap jatah yang dulu perlu dikurangi. Padahal terjadi perubahan perilaku petani. Sehingga serapannya berubah kalau yang dulu habis sekarang justru kurang.” Demikian disampaikan oleh Asisten 2 Pemerintah Kabupaten Bondowoso, Muhammad Erfan, usai rapat evaluasi pupuk bersubsidi, Jumat (29/9).

 

Baca Juga : Begini Langkah Satgas Karhutla Saat Terjadi Kebakaran

 

Berdasarkan data yang dirilis oleh Dinas Pertanian Bondowoso, jelas Mohammad Erfan, masih ada sisa stok pupuk SP36 sebanyak 166 ton. Namun jumlah ini dipastikan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan petani selama empat bulan kedepan. Karena berkaca perilaku penggunaan pupuk selama delapan bulan terakhir, penggunaan pupuk SP36 selama empat bulan yakni 701 ton.

“Kebutuhan empat bulan ke depan itu 701 ton, tapi yang dialokasikan oleh pemerintah provinsi 166 ton. Nanti surat Bupati untuk bisa meminta tambahan ke Provinsi supaya mendekati angka 700 ton,” jelasnya.

Namun demikian pihaknya memastikan untuk stok pupuk bersubsdi lainnya masih aman. Seperti, stok Urea dengan alokasi awal sebanyak 36.130 ton dan mendapatkan tambahan 3.500 ton. Kemudian pupuk jenis Ponska, alokasi awal 6.864 ton dan mendapat tambahan 1.187 ton. (och)