Share

BONDOWOSO– Sosialisasi penertiban pedagang sore di Pasar Induk Bondowoso diwarnai dengan adu mulut hingga teriakan histeris pedang Selasa (21/4/2020).

Sejumlah pedagang ayam yang hendak diminta kembali berjualan di lantai dua, menolak bahkan sempat adu mulut dengan para petugas gabungan yang tediri dari Mantri Pasar, Satpol PP, dan pihak Kepolisian.

Salah seorang pedagang daging ayam, Endang, mengatakan, pedagang daging ayam menolak dipindah karena berjualan di lantai dua justru membuat pendapatan mereka menurun.

Jika dalam sehari biasanya menjual sekitar 70 hingga 100 kilogram daging ayam. Namun sejak dipindah, terjadi penurunan hingga hanya mampu menjual sekitar 30 kilogram.

“Sore sampai malam di atas, lantai tambah gelap sudah tambah sepi, karena pedagang yang dari pagi sampai sore sudah pada pulang,”kata Endang.

“Kalau memang harus bersih ya bersih semua. Kalau memang masih hanya pedagang ayam, itu berarti masih ada pihak yang diuntungkan,”urainya.

Ia pun mengeluhkan fasilitas di lantai dua tepatnya perihal saluran air yang mampet. Dan memunculkan aroma tak sedap dan mengeluarkan belatung.

“Saya mohon kepada Bapak Bupati tolong pikirkan kami rakyat kecil. Kami hanya butuh makan untuk cari nafkah. Betul ada tempat, tapi fasilitasnya tak memadai,”tuturnya sambil menangis tersedu-sedu.

Selama ini pihaknya telah mencoba berkomunikasi dengan Diskoperindag, Dewan Research Daerah (DRD), bahkan hingga DPRD. Yakni, menyampaikan penolakan terhadap pemindahan ke lantai dua.

 

 

Baca Juga : Terkait BLT di Tengah Covid-19, Sekda Minta Pemdes Hindari Tumpang Tindih Bantuan

 

Sementara itu, Kepala Mantri Pasar, Hasan Basri, dikonfirmasi, mengaku, bahwa zonasi pedagang ini merupakan salah satu upaya untuk menjadikan Pasar Induk Bondowoso sebagai pasar rakyat yang berstandar nasional Indonesia.

“Tapi kita tidak sekaligus dan serta merta menjadi pasar SNI. Kita pelan-pelan, namun untuk merujuk kepada program dari penataan itu sendiri kita pelan-pelan. Sebatas mana yang bisa untuk ditata, termasuk pedagang ayam itu adalah bagian dari zonasi yang sudah ada tempatnya,”katanya.

Alasan penolakan para pedagang ayam yakni perihal tidak laku dagangannya, padahal klaim Hasan Basri justru sebaliknya.

“Artinya kita merujuk pada CCTV yang ada, Silahkan cek,”kata mantri pasar tersebut pada awak media saat di wawancarai sambil menunjuk ke layar pantau cctv yang di maksud.

Terkait keluhan fasilitas air yang tersumbat, kata Hasan, kembali kepada pribadi masing-masing untuk saling menjaga masalah kebersihannya.

“Masalah kebersihan yang dimaksudkan kotor dan sebagainya, kita juga ada kerjasama dengan pihak DLHP yang memang sudah satu hari dua kali, untuk pembersihan di Pasar Induk,”urainya.

Pihaknya mengaku telah melakukan beberapa kali pertemuan dengan pedagang daging ayam. Dan mereka pun menerangkan ingin tetap berjualan di bawah.

“Padahal lapak yang disiapkan Pemerintah Daerah untuk fasilitas pedagang ayam yang ada dari beberapa komunitas ayam di Pasar Induk,” Ungkapnya.

Rencananya, Rabu (21/4/2020) akan dilakukan penertiban gabungan untuk mengambalikan ke lantai ke dua.(och)