Share

BONDOWOSO – Pemandangan tak lazim terlihat pada siswa SDN Selolembu, Curahdami, Kamis, (8/12/2022). Waktu belajar yang biasanya dilakukan di dalam ruang kelas, kali ini mereka belajar mitigasi bencana di halaman sekolah.

Tampak sekitar 50 siswa sedang dilatih menghadapi situasi sesaat dan sesudah bencana alam. Baik berupa bencana geologi seperti gempa bumi dan bencana hidrometeorologi seperti angin puting beliung dan tanah longsor.

Para siswa juga diberikan keahlian mangani dapur umum. Dalam simulasi yang dilakukan, para siswa mempraktekkan memasak di kendaraan dapur umum portabel milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso.

Kepala Sekolah SD Negeri Silolembu, Catur Mega Sofianto mengungkapkan, kegiatan tersebut merupakan salah satu edukasi tanggap bencana kepada siswa termasuk kepada dewan guru sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo.

Para siswa dibekali pengetahuan tentang mitigasi bencana agar selalu siap menghadapi bencana sewaktu-waktu.

“Edukasi harus dimulai paling bawah termasuk di pendidikan terutama di rawan bencana kepada sekolah,” jelasnya.

Sebagai tenaga pendidik, kata Catur, para guru juga akan turut andil dalam penanganan pasca bencana untuk memastikan layanan pendidikan dan mampu memulihkannya kembali di satuan pendidikan terdampak bencana.

“Guru dapat mengetahui dan bagaimana cara mempersiapkan diri menghadapi bencana,” lanjutnya.

Baca Juga : Sempat Terombang-Ambing di Tengah Laut, Dua Nelayan Situbondo Ditemukan Selamat

Catur menambahkan jika sekolahnya saat ini sedang mencanangkan sekolah tanggap bencana. Nantinya, SDN Selolembu bakal menjadi satu-satunya sekolah di Bondowoso yang menyandang status sekolah tanggap bencana.

Sementara itu, Sekretaris BPBD Bondowoso Kristianto Putro Prasojo menjelaskan, dipilihnya SD Negeri Silolembu sebagai sekolah yang mendapat pelatihan karena Desa Selolembu termasuk dalam daerah rawan bencana utamanya rawan puting beliung dan tanah longsor.

“Kita nilai ini sangat signifikan memberikan edukasi ke siswa,” paparnya.

Para siswa dan guru diberikan pemahaman bahwa semua kawasan di Bondowoso merupakan masuk rawan bencana.

“Sehingga ketika adik-adik ini menyadari adanya ancaman itu, mereka tahu apa yang harus dilakukan,” bebernya.

Ia berharap, kegiatan ini dapat berlanjut di sekolah-sekolah lain. Sehingga, pihaknya akan berkoorkdinasi dengan Dinas Pendidikan untuk menguatkan program tanggap bencana di dunia pendidikan.

“Untuk SD, di sini pertama. Pernah di Ponpes Manbaul Ulum kolaborasi BPBD provinsi dengan Bondowoso,” pungkasnya. (abr)