BONDOWOSO – Beragam cara dapat dilakukan untuk membangkitkan semangat kemerdekaan di hari Ulang Tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Salah satunya dengan melakukan pertunjukan seperti yang dilakukan oleh Grup Apresiasi Seni (GAS) Bondowoso usai berkibarnya sang merah putih di langit alun-alun Ki Bagus Asra, Kamis, (17/8/2017).

Tampak ratusan penonton terlihat antusias menyaksikan teater tersebut. Dalam lakon berjudul Gerilya di Bondowoso itu, GAS menyuguhkan tontonan yang menceritakan tentang awal mula masuknya tentara Belanda yang hendak mengusai Bondowoso.

Dalam upaya membendung gempuran tentara Belanda, rakyat Bondowoso bersikeras untuk mengusir. Namun apalah daya, perlawanan itu kandas karena hanya berbekal senjata sederhana dan bambu runcing hingga memutuskan untuk mengundur kan diri ke wilayah barat pegunungan Bondowoso, untuk mengatur strategi perlawanan selanjutnya.

Dalam perlawanan kali kedua, pejuang Bondowoso seakan pergi mengantarkan nyawa kepada Belanda. Satu demi satu nyawa rakyat Bondowoso melayang bersamaan dengan letupan moncong senjata belanda. Namun berkat kegigihan sisa pasukan yang masih hidup, mereka berhasil merobek warna biru bendera belanda yang telah berkibar cukup lama berkibar. Begitulah alur cerita dalam skenario drama itu.

 

Baca Juga : Ini Pesan Bupati Amin Kepada Anggota Paskibra

 

“Kita suguhkan gambaran perlawanan masyarakat Bondowoso kala itu. Supaya semua bisa mengetahui bagaimana suasa duka yang melanda Bondowoso pada waktu itu,” ungkap Junaidi, Sutradara lakon tersebut.

Usai pagelaran drama kolosal tersebut, salah seorang mahasiswa asli Bondowoso mengungkapkan bahwa, pertunjukan serupa memang perlu dilakukan sebagai gambaran perwanan pahit rakyat Bondowoso dimasa lalu. Setelah menyaksikan pagelaran drama kolosal tersebut, selaku generasi muda Ia merasa berhutang jasa dan akan bertindak positif untuk mengisi kemerdekaan yang telah diwariskan selama 72 hingga kini.

“Langkah kita tentunya akan melakukan hal positif seperti menjahui narkoba dan terus belajar mengukir prestasi demi membalas budi kepada para pejuang,” kata Sunita.

Sementara Bupati Bondowoso mengungkapkan bahwa, dilakukannya serangkaian acara tersebut pada hakikatnya adalah sebagai wujud rasa syukur atas rahmat dan karunia yang diberikan Tuhan yang maha kuasa. Sehingga kemerdekaan yang telah diproklamirkan sejak tahun 17 Agustus 1945 tetap terkenang hingga hari ini.

“Kemerdekaan adalah sebuah rahmat dan karunia Tuhan yang harus disyukuru oleh bangsa Indonesia, sehingga sejajar dengan negara-negara lain tanpa adanya sebuah penjajahan,” pungkas Bupati. (abr)