Share

BONDOWOSO – Sekretaris Daerah Syaifullah tak segan akan menutup penyalur pupuk bersubsidi yang terbukti nakal memainkan harga di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

“Pertama akan ada surat tegas kepada penyalur pupuk untuk tidak menaikan harga melebihi HET. Bagi yang ditemukan, kita langsung tutup,” Demikian disampaikan oleh Sekretaris Daerah Bondowoso, Syaifullah, usai mengikuti Video Confrence di Aula Sabha Bina, Rabu (8/4/2020).

Ia tak menampik bahwa hal ini dilakukan karena salah satu indikasi penyebab kelangkaan pupuk di wilayahnya diduga karena terjadi permainan harga oleh oknum penyalur.

“(Bisa ditarik kesimpulan bahwa penyebab kelangkaan pupuk karena adanya permainan harga?) Bisa jadi, bisa,”ujarnya.

Menurut Syaifullah, memang terdapat dua kios yang diduga menjual pupuk bersubsidi dipaket dengan pupuk non bersubsidi. Namun, Ia enggan menyebut kios dimaksud.

” Yang saya ketahui ada dua kios. Tak tahu daerah mana itu,”ungkapnya.

 

Baca Juga : Anggaran Penanganan Covid-19 di Bondowoso Meningkat Hingga Rp 46 M

 

Terkait dengan adanya oknum yang terindikasi memainkan harga pupuk dan tengah ditangani oleh Polres, kata Syaifullah, pihaknya akan mengikuti perkembangan dan menyerahkan sepenuhnya pada kepolisian.

“Kita serahkan semua pada tingkat penyidikan ya,”urainya.

Selanjutnya, karena kondisi ini pihak Pemkab pun terus bekerjasama dengan kepolisian dan TNI untuk menindak tegas apabila masih ditemukan adanya penyalur pupuk yang menjual harga melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET). Kini, pihaknya akan menyampaikan surat kepada seluruh penyalur pupuk untuk tidak memainkan harga.

Dilanjutkan oleh mantan ASN Pemkab Situbondo ini, bahwa petani juga bisa melaporkan langsung ke Pemkab manakala menemukan adanya permainan harga.

“Bisa langsung melaporkan, bahkan syukur ada bukti ya. Jadi bisa kita tutup itu,”imbuhnya.

Di Bondowoso sendiri, kata Sekda Syaifullah, mendapat jatah sekitar 21ribu ton pupuk bersubsidi. Dengan rincian yakni pengurangan 50 persen dari jatah tahun lalu, menjadi 18ribu ton. Ditambah dengan revisi RDKK sekitar 2.800 ton. Adapun harga sebagaimana HET untuk urea bersubsidi yakni Rp 1.800 per kilogram.(och)