Karna Suswandi saat memimpin kegiatan Gemapildasi yang merupakan inovasi baru. (ron)

BONDOWOSO – Kepala Dinas PUPR, Drs. H. Karna Suswandi mengatakan bahwa prestasi yang diraihnya selama ini karena ada pembeda dan berbeda dengan yang lain dengan adanya inovasi baru yang dikembangkan dan belum dilakukan di daerah lain. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Gerakan Masyarakat Peduli Lingkungan Daerah Aliran Sungai dan Irigasi atau yang disebut inovasi Gemapildasi. Dari pemaparan tim juri dalam lomba sebelumnya, inovasi Gemapildasi ini hanya ada di Bondowoso.

“Sungai memiliki peranan penting dan vital yang tidak hanya berfungsi sebagai media tempat berlangsungnya ekosistem, tapi juga sumber penghidupan bagi masyarakat sekitarnya. Untuk membenahi sungai tidak cukup dengan pendekatan teknis semata. Tapi juga mesti dengan pendekatan sosial budaya. Kombinasi pendekatan seperti ini masih jarang dilakukan. Untuk itu, lahirlah inovasi Gemapildasi ini,” ujarnya.

Pria yang mulai akrab dengan panggilan Bung Karna ini mengatakan bahwa program ini merupakan inovasi baru yang bekerjasama dengan beberapa instansi lain guna mewujudkan upaya peningkatan konservasi lingkungan agar kelestarian lingkungan umumnya dan sumber daya air khususnya dapat terjaga dengan baik.

“Tujuan program ini adalah terbentuknya sinergi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat agar pelaksanaan konservasi berjalan lancar, terjaga, dan bermanfaat untuk masyarakat,”sambungnya.

 

Baca Juga : Karna Suswandi, Kadis Penuh Inovasi dan Menjadi Inspirasi Irigasi Nasional

 

Inovasi lain yang dikembangkan, lanjut Bung Karna adalah inovasi yang dikenal dengan Thompson Partable, inovasi berupa alat pengukur debit air. Inovasi ini menjadi pembeda dan sudah jelas manfaatnya dirasakan masyarakat petani. Karena dengan inovasi Thompson Partable pembagian air bisa maksimal dengan waktu yang maksimal dan air yang tercukupi. Sehingga ketersediaan dan kebutuhaan air di masing-masing Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) bisa tercukupi.

“Dengan pengukur air ini, para juru pengairan dan HIPPA akan nyaman serta bisa bekerja secara efektif yang mampu dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Karena debit air akan mampu menyesuaikan dengan yang dibutuhkan,” ujarnya lagi.

Bung Karna lebih lanjut mengatakan, alat ini juga bisa menentukan efisiensi air yang masuk ke masing-masing HIPPA dan terukur. “Air sawah bisa tertangani dengan baik dan sesuai dengan takaran yang dibutuhkan petani dengan waktu yang akurat,” katanya.

Karna Suswandi saat memimpin kegiatan Gemapildasi yang merupakan inovasi baru. (ron)

Selain itu, Bung Karna juga menjelaskan ada inovasi pelaporan melalui SMS terkait ketersediaan dan kebutuhan serta pembagian air untuk petani. Inovasi inilah juga yang mengantarkan nama Bondowoso di tingkat Nasional. Bahkan, inovasi ini akan diupdate pemerintah pusat untuk dijadikan pelaporan secara Nasional.

“Aplikasi yang kami miliki sudah diminta Kementerian PUPR RI untuk dijadikan pelaporan dan diterapkan secara Nasional,” ujarnya.

Dia menjelaskan, aplikasi ini dinilai bagus karena pelaporan biasanya dilakukan selama 10 hari sekali. Tapi dengan adanya inovasi baru ini, pelaporan bisa dilakukan setiap hari. Sehingga seluruh lapisan masyarakat bisa terpenuhi kebutuhan airnya setiap hari karena komputer akan mengevaluasi secara otomatis.

“Saat menerima SMS, komputer akan langsung mengevaluasi secara otomatis dan saat itu juga langsung mengeluarkan keputusan sehingga petani bisa terlayani dengan baik. Aplikasi juga bisa mengontrol distribusi air ke petak-petak yang memang dibutuhkan oleh petani. Karena setiap hari juru pengairan harus bisa mengukur debit air. Sehingga mempermudah pengaturan dan distribusi air ke petani tanpa ada keluhan,” sambungnya.

Inovasi seperti ini menurut Bung Karna tergolong unik dan bisa jadi yang pertama di Indonesia. Hal ini juga pernah dipertegas olah tim juri dalam penilaian saat lomba bahwa inovasi ini hanya ada di Bondowoso sehingga menjadi kiblat pengaturan distribusi air melalui system aplikasi SMS. Sejak diberlakukannya sistem ini, para petani tidak lagi mengeluh kekurangan air karena distribusi air bisa dibagikan secara merata dan adil.

“Saat kemarau datang tentu debit air berkurang sehingga bersama HIPPA, dan Gabungan HIPPA harus mengatur dengan baik agar distribusi air merata dan tidak dikeluhkan petani. Inovasi ini menjadi jawaban persoalan petani yang biasa dihadapi saat musim kemarau tiba,” pungkasnya. (ron)