Share
Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Shinto Silitonga saat
mengerebek Sebuah usaha perikanan di Sidodadi 9/77 Kecamatan
Simokerto,Surabaya, Kemarin

SURABAYA – Sebuah usaha perikanan di Sidodadi 9/77 Kecamatan Simokerto, Surabaya digerebek Tim Satgas Pangan Satreskrim Polrestabes Surabaya, Sabtu (17/6).

Usaha olahan hasil laut milik Agus Margono (60) ini diduga melanggar aturan Kementerian Kelautan dan Perikanan karena memperdagangkan Sirip Ikan Hiu jenis koboi Carcharhinus Longimanus yang merupakan satwa laut dilindungi.

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Shinto Silitonga mengatakan, setelah melakukan penggeledahan, di dalam rumah milik Agus Margono, petugas menemukan beberapa jenis sirip ikan Hiu. Satu di antaranya adalah sirip ikan Hiu Koboi. Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan, sirip ikan hiu yang dilindungi ini didapat dari nelayan di sekitar Pantai Kenjeran, Surabaya maupun dari luar kota hingga Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Sirip ikan Hiu dibeli oleh pelaku dari para nelayan seharga Rp1 juta/kilogram, kemudian diolah dan dikemas sebagai produk olahan hasil laut. Pemilik memperoleh keuntungan lebih besar. Tiap kilogram sirip ikan Hiu dalam kemasan, dijual Rp 700 ribu,” katanya.

Selain sirip ikan Hiu, Tim Satgas Pangan juga menemukan adanya pengolahan hasil laut lainnya yaitu olahan isi perut ikan Kakap, Kerang mutiara dan beberapa barang berasal dari sumber daya kelautan lainnya.

“Hasil temuan di lapangan, produk olahan hasil laut selain sirip ikan Hiu tidak memiliki izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM),” jelasnya.

 

Baca Juga : Pakde Karwo Minta Mendikbud Tunda Penerapan Full Day School

 

Selain itu, di rumah tersebut polisi juga menemukan Surat Ijin Usaha Perikanan (SIUP). Setelah diteliti, SIUP tersebut ternyata telah kedaluwarsa. Ijin itu telah mati. SIUP itu dibuat tahun 2002 dan harus diperbarui setiap dua tahun. “Sudah 15 tahun izinnya mati,” ujarnya.

Sementara itu, Agus Margono, mengakui kalau memang menampung sirip hiu. Dikatakannya ia membeli dari nelayan Lamongan dan Tuban. Nelayan itu sendiri yang membawanya ke rumah. Setiap kali datang, nelayan membawa 10-20 kg sirip hiu.

“Sirip hiu saya beli dalam keadaan kering Rp 200-300 ribu perkg.Kalau bagus saya beli Rp 1 juta per kg. Saya cuma ambil untung Rp 50 ribu perkg nya,” ujar Agus.

Berdasarkan analisa temuan dan pemeriksaan, ditambahkannya AM akan dijerat Undang-Undang Perikanan Nomor 31 Tahun 2004 dan Nomor 45 Tahun 2009, khususnya Pasal 7 ayat 2.

“Didalam pengemasan pangan juga tidak ada izin edarnya, maka AM juga berpotensi melanggar Undang-Undang Nomor 18/2012 tentang pangan, terutama pada Pasal 143,” pungkasnya. (sga/ron)