Share

BONDOWOSO – Bondowoso Herritage menyuguhkan sejumlah tari-tari tradisional khas Bondowoso, dengan menu utama drama kolosal Babad Bondowoso. Tak aneh, karena memang tujuan dari Bondowoso Herritage, yeng merupakan rangkaian peringatan hari jadi Kota Bondowoso ke 198, digelar untuk kembali menelusuri, mengenang, serta menuai kisah teladan dan perjuangan Raden Bagus Asra (pembabat Kabupaten Bondowoso). Agenda ini sekaligus memamerkan sejumlah kekayaan budaya yang dimiliki kota tape ini.

Mengawali Bondowoso Herritage, Rabu malam (19/7), tari Topeng Kona (Topeng Kuno), bak makanan pembuka memancing selera kagum ribuan pasang mata yang telah berkumpul di Alun-alun Ki Bagus Asra. Riuh rendah tepuk tangan penonton menunjukkan kebanggaan yang besar akan kesenian asli Bondowoso ini.

Tarian yang merupakan bagian dari tari Ronteg Singo Ulung ini, hadir dengan penari tunggal menggunakan topeng berwarna putih. Gerakan tari yang memadukan antara kelembutan dan keperkasaan ini mengisahkan tentang seorang pemimpin yang bijaksana dan berwibawa bernama Juk Seng. Dalam menjalankan tugasnya Juk Seng selalu dipandu oleh kerabatnya bernama Ja Siman dan murid-murid dari perguruan Ja Siman.

 

Baca Juga : Pelajar Bondowoso Antusias Sambut Kirab Bupati

 

Masyarakat sekitar kala itu mengenal Juk Seng sebagai orang yang sakti mandraguna, dan bersahabat dengan hewan, dan salah satunya, singa. Dalam setiap pertempuran Juk Seng selalu meminta bantuan singa, dan selalu memperoleh kemenangan.

Penari tunggal ini terus bergerak di panggung mengikuti irama musik yang dimainkan. Selang beberapa menit, singa berjumlah sekitar sembilan, keluar dari arena panggung. Gerakan-gerakan singa yang akrobatik, memunculkan kejutan-kejutan, mampu mempesona penonton. Apalagi mulut singa tersebut ternyata bisa “menggigit” (sebetulnya dipegang tangan dari dalam).

Bahkan, singa tersebut mencoba menyapa Bupati Amin dan sejumlah Forpimda yang duduk di Paseban dengan menaiki tangga, dan mengatup-ngatupkan mulutnya.

Seekor singa melakukan gerakan akrobat, berguling-guling, dua buah singa yang lain menyambut dengan gerakan perlawanan. Kemudian ketiga singa tersebut bergabung membentuk formasi piramida layangnya gadis-gadis cheer Leaders yang sedang beraksi. (och)