BONDOWOSO – Seratusan kepala desa dari Bondowoso dan berbagai wilayah Nusantara mengikuti rangkaian kegiatan Festival Desa Nusantara (FDN) terakhir yakni, rembuk desa, di Aula Ijen View, Rabu (18/7). Dalam rembuk desa ini, mereka bukan hanya bisa menyampaikan kritik konstruktif terhadap realisasi UU desa muapun regulasi terkait. Melainkan juga, seluruh kades diperkenalkan pada digitalisasi pasar dalam menjualkan produk unggulan desa masing-masing.

Asnawa Sabil, Sekertaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, saat memberikan sambutan menerangkan, dalam rembuk desa ini memang ada dua hal yang ingin dicapai terutama adalah ingin coba mengeksplorasi lebih jauh, terutama pada kritik konstruktif terhadap UU desa atau semua regulasi yang terkait desa.

“Saya berharap kepada semua Kades, silahkan memberikan sumbangsih pemikiran, lebih-lebih kritik membangun. Bagaimana kedepan kita memperbarui regulasi, dan tata kelola pengelolaan dana desa,” urainya.

Baca Juga : Menteri PDTT Apresiasi Penurunan Kemiskinan di Bondowoso

 

Kemudian, dari rembuk desa yang pertama kali digelar ini, pihaknya bekerjsama dengan Kompak, mendatangkan beberapa pelaku usaha yang berbasis media online. Mereka memberikan pemparan tentang digitalisasi pasar, dalam memasarkan produk unggulan desa.

Menurutnya Ini menjadi penting, pasalnya di era digitalisasi ini penjual dan pembeli dalam melakukan transaksi tidak perlu bertatap muka. Bahkan penjual dan pembeli yang berjauhan, justru bisa terhubung cukup dengan gadget. Maka, digitalisasi pasar ini pun bisa menjadi salah satu cara menguatkan ekonomi masyarakat di desa.

“Itu mungkin sebuah ikhtiar kita, untuk terus bersama-sama memajukan Bondowoso dan terus meningkatkan profesiaonalisme dalam mengelola dana desa,” pungkasnya.(och)