Situbondo – Rumah dari 646 kepala keluarga (KK) di Desa Sumberargo, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, belum teraliri listrik. Hingga saat ini, warga yang tinggal di desa terpencil di lereng Argopuro itu setiap harinya mengandalkan lampu tempel (teplok) untuk penerangan.

“Sebanyak 646 rumah warga yang hingga saat ini belum bisa menikmati listrik. Itu ada di tiga dusun, sedangkan satu dusun lainnya sudah teraliri listrik menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro atau PLTMH,” kata Kepala Desa Sumberargo, Kecamatan Sumbermalang, Kabupaten Situbondo, Jalis, Selasa (11/4).

Ia mengemukakan, dusun yang sudah teraliri listrik (PLTMH) yakni Dusun Tunggul yang dihuni sebanyak 157 kepala keluarga. Sedangkan tiga dusun lainnya yang belum menikmati listrik di antaranya Dusun Krajan, Dusun Sumber Tengah serta Dusun Sumber Selatan sebanyak 646.

Sejauh ini, katanya, di Desa Sumberargo yang memiliki empat dusun sebanyak 803 KK itu hanya ada satu dusun yang mendapatkan bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro dari pemerintah daerah sebanyak satu unit.

“Oleh karena itu kami sangat berharap voltase PLTMH yang ada saat ini bisa ditambah atau pemerintah kabupaten membantu menambah satu hingga dua unit PLTMH agar warga di tiga dusun desa yang ada di Lereng Gunung Argopuro ini bisa menikmati listrik,” ucapnya.

Selama ini warga yang tinggal di tiga dusun tersebut, lanjut dia, hanya menggunakan lampu tempel (teplok) setiap malamnya dan sebagian besar juga menggunakan lampu petromaks.

“Kalau menggunakan PLN di desa kami sepertinya susah karena daerah pegunungan dan jarak antara satu dusun ke dusun lainnya cukup jauh antara tiga hingga empat kilometer,” tuturnya.

Sementara salah seorang warga Susilo mengatakan, selama ini putrinya yang masih duduk di bangku sekolah dasar setiap harinya harus belajar pada sore hari sebelum matahari terbenam.

“Harapan kami ada bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro sehingga ratusan kepala keluarga di tiga dusun ini dapat menikmati listrik serta anak-anak dapat belajar dnegan maksimal,” paparnya. (yud/esb)