Share

BONDOWOSO – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Bondowoso menggelar rapat kerja pertama pasca dilantik dua minggu lalu. Raker ini dilaksanakan di desa Glingseran, Kecamatan Wringin, Minggu (4/3).

Haryono, Ketua PWI Bondowoso, mengatakan, raker ini dilakukan untuk menyelaraskan program kerja seksi-seksi dengan visi dan misi dari PWI Bondowoso masa bakti 2017-2020. Tentunya, raker ini menjadi bagian penting dalam menyatukan persepsi dari para pemangku seksi-seksi agar memahami visi dan arah organisasi kewartawanan ini.

“Saya harap semua pengurus sekarang mengerti mengapa organisasi PWI yang baru dilantik ini harus menegaskan ulang, mengingatkan ulang, dan menjelaskan kepada semua orang mengenai visi dan misi ke depan,” ujarnya di hadapan pengurus PWI kabupaten Bondowoso.

Ia pun menegaskan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus dipikul bersama dalam meningkatkan kapasitas dan profesionalisme jurnalis di Bondowoso. Terlebih, isu berita hoax semakin santer di tengah-tengah pelaksanaan Pilkada serentak 2018. Tentu PWI harus hadir dalam memberikan literasi media kepada masyarakat Bondowoso, dengan langkah awal meningkatkan profesionalisme para insan pers. Sehingga, pers yang sering disebut sebagai pilar keempat demokrasi, benar-benar bisa hadir dalam memberikan informasi massa, pendidikan kepada publik sekaligus menjadi alat kontrol sosial.

“Ini nantinya akan jadi salah satu konsen kita ke depan. Ini juga masuk di dalam visi dan misi kita dalam meningkatkan kapasitas dan profesionalisme jurnalis,” ujarnya.

Selain itu, dari pemangku seksi yang ada dalam waktu dekat akan bersinergi dengan instansi terkait untuk mensukseskan Pilkada serentak, melalui tangkal berita hoax.

Sementara itu, Kepala Desa Glingseran, Sulaidi, mengatakan, sebagai mitra Pemerintah Pers memiliki peran yang cukup besar dalam pembangunan, karena tanpa adanya peran serta insan pers dalam pembangunan mungkin pembangunan yang sudah dilaksanakan tidak memiliki arti dan makna bagi masyarakat.  Para jurnalis atau insan pers keberadaannya juga dirasakan memiliki andil yang cukup besar sebagai mediator yang menghubungkan komunikasi dua arah antara pemerintah dengan masyarakat.

“Munculnya desa Glingseran yang selama ini terpendam bukan karena saya, melainkan karena kekompakan pemerintah desa dan temen-temen Jurnalis. Seperti, saling komunikasi, membantu memberitakan berbagai hasil pembangunan di desa Glingseran juga. Bisa terbrandinglah dengan teman-teman Jurnalis,” ujarnya.

Ia pun berharap ke depan organisasi wartawan ini bisa memerangi sejumlah oknum jurnalis yang “CNN” akronim dari “cuma nekan-nekan.  Karena, bagaimana pun kehadiran oknum jurnalis ‘CNN’ ini justru bisa mengotori para insan pers yang profesional.

“Alhamdulillah, dengan dilantikanya pengurus yang sekarang ini mudah-mudahan bisa memerangi yang ‘CNN’,” pungkasnya. (och)