Share

BANYUWANGI – Tradisi lokal masyarakat Boyolangu ramaikan gelaran Banyuwangi Festifal 2017. Sebelumnya juga digelar ritual adat Barong Ider Bumi dan Seblang Olehsari. Kini Kirab Puter Kayun ini diselenggarakan di Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, Banyuwangi, Selasa (4/7).

Tradisi kirab Puter Kayun merupakan ritual adat yang dilakukan warga Boyolangu dengan mengendarai dokar hias arak-arakan menuju Pantai Watu Dodol sejauh 15 kilometer setiap hari ke-10 bulan Syawal. Seluruh dokar hias yang ikut dalam kegiatan ini adalah milik warga Boyolangu yang masih mempertahankan moda angkutan warisan Nusantara.

Kegiatan ini berasal dari masyarakat dengan istilah ‘nguri-nguri budoyo’ (kelestarian budaya), sejak tahun 2016. Tradisi ini masuk dalam agenda wisata Banyuwangi Festival (B-Fest) 2017.
“Banyuwangi festival akan konsisten mengangkat tradisi lokal masyarakat setempat, termasuk tradisi Puter Kayun Boyolangu. Dimana yang sifatnya tradisi lokal akan terus kami dukung pelaksanaannya di daerah tersebut, bukan malah diusung ke kota,” ujar staf ahli bidang ekonomi dan Keuangan Banyuwangi, Pujo Hartanto, saat membuka acara.

 

Baca Juga : Dinas PUPR Antar HIPPA Sido Makmur Raih Juara 1 Nasional

 

“Selain agar tradisi dan ritual yang ada tetap terjaga, ini juga bertujuan untuk menumbuhkan obyek wisata daerah di Banyuwangi.”

Tradisi ini terus digelar sebagai napak tilas jejak Ki Buyut Jakso atau Ki Martojoyo atau Ki Joyo Marto sebagai leluhur warga Boyolangu yang dipercaya sebagai orang yang pertama kali membabat di kawasan Banyuwangi utara.

Konon, saat membuka jalan, Ki Buyut Jakso ditugaskan oleh Bupati pertama Mas Alit untuk membongkar batuan karang yang sulit dibongkar dan banyak memakan korban jiwa. Kemudian Ki Jakso bersemedi dan tinggal di Gunung Silangu yang sekarang jadi Boyolangu. Atas kesaktiannya, akhirnya lahirlah jalan Banyuwangi – Surabaya.

“Dia yang membuka jalan yang saat ini dikenal Watu Dodol, yang berarti dibongkar,” ujar ketua panitia Puter Kayun, Mohamad Ihrom.

Ihrom menambahkan, sejak saat itu Ki Buyut Jakso berpesan agar anak cucu keturunannya berkunjung ke Pantai Watu Dodol untuk melakukan napak tilas.

“Karena saat itu banyak masyarakat Boyolangu berprofesi sebagai kusir dokar, hingga ada yang menyebut Puter Kayun ini sebagai lebarannya kusir dokar,” tuntasnya. (mam/esb)