BONDOWOSO – Bukti Piramid di Kecamatan Curahdami kembali memakan korban. Seorang pelajar bernama Arik Multazam (18) meninggal dunia saat mendaki kesana, Minggu (9/8/2020).

Karena hal itulah, Pemkab Bondowoso berkomitmen akan mengadakan stimulasi pendakian di Bukit Piramid, Kecamatan Curahdami. Karena pendakian di kawasan yang terkenal punggung naga itu dinilai sangat ekstrim.

Demikian disampaikan oleh Wakil Bupati Irwan Bachtiar Rahmat, usai takziah ke rumah duka di Gang ABC, Kelurahan Dabasah, Senin (10/8/2020).

“Lahannya sangat ekstrim, ini butuh keahlian khusus. Sehingga kalau memang mau dibuka sebagai lahan wisata. Kita akan menyiapkan pemandu wisatanya. Supaya bagi pendaki betul-betul aman,”katanya.

Ia mengaku bahwa sebenarnya pasca kejadian sebelumnya, meninggalnya pendaki bernama Thoriq Riski Maulidan pada Juni 2019 lalu pihaknya telah melakukan penutupan dengan portal. Namun memang masih banyak yang masuk untuk mendaki.

“Sudah ditutup, tapi masih banyak orang yang datang kesana (Gunung Piramid-Red),”katanya.

Karena itulah, kejadian ini menjadi sebuah masukan kepada Pemerintah Kabupaten Bondowoso. Dan segera akan berkoordinasi dengan perhutani untuk menutup.

Wabup Irwan berharap mereka yang hendak mendaki bukit Piramid ini orang-orang yang betul-betul mempunyai keahlian mendaki.

 

Baca Juga : Suasana Haru Menyelimuti Pemakaman Pelajar Meninggal Dunia saat Mendaki Bukit Piramid

 

Lanjutnya, apabila ingin ke Puncak Gunung Piramid maka haruslah betul-betul mempersiapkan secara mental dan harus didampingi oleh pemandu yang berpengalaman.

Dalam kesempatan itu, Wabup Irwan juga menyampaikan duka citanya atas meninggalnya Arik Multazam.

“Saya juga mengucapkan berduka cita bagi keluarga yang ditinggalkan. Semoga diberikan keikhlasan,”tuturnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pariwisata, Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Bondowoso, Arif Setyo Rahardjo, menjelaskan, pendakian bukit Piramid belum menjadi destinasi wisata yang dikelola oleh Pemkab, maupun dikelola desa.

“Jadi belum ada pengelolanya. Belum kita tetapkan sebagai destinasi wisata yang dikunjungi wisatawan,”katanya.

Bahkan, para pengunjung yang mendaki kesana tidak ada pemberitahuan ke Disparpora. Berbeda dengan Gunung Raung dan Ijen.

” Area disana juga kewenangannya ada di Perhutani, dan BKSDA,”ujarnya.

Menurutnya, area yang kewenangannya ada di Perhutani dan BKSDA maka pihaknya harus membuat perjanjian kerjasama antara Disparpora, Perhutani, LMDH (Lembaga Masyarakat Daerah Hutan).

Adapun Bukit Piramid, punggung naga dan sebagainya masih diproyeksikan untuk digarap. Karena ada banyak pertimbangan.

” Karena memang masuk dalam kategori minat khusus, dengan resiko besar. Sehingga penting untuk dilakukan tahapan-tahapan,”pungkasnya.(och)