Share

BONDOWOSO – Sebanyak 96 mahasiswa dari sembilan PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri), melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) kolaboratif di beberapa di Bondowoso.

Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember sendiri menjadi KKN Persemakmuran PTKIN Eks IAIN Sunan Ampel Tahun 2024, atau KKN Kolaboratif.

Adapun sejumlah perguruan tinggi islam lainnya yang tergabung dalam kolaboratif yakni UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, IAIN Ponorogo, IAIN Kediri, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, UIN Kiai Haji Achmad Shidiq Jember, IAIN Madura, UIN Mataram, dan UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda.

Pelepasan KKN berlangsung di Pendapa Bupati Bondowoso. Dihadiri langsung Warek I UIN KHAS Jember, Pj Sekda Bondowoso Haeriyah Yuliati dan sejumlah perwakilan dari sembilan perguruan tinggi.

Wakil Rektor Bidang Akademik (Warek I), Khusna Amal menyampaikan salam dan permohonan maaf Rektor UIN KHAS Jember yang tidak bisa hadir langsung karena ada kegiatan di Jakarta.

Mewakili Rektor UIN KHAS Jember, Khusna Amal mengatakan, sebagai tuan rumah pihaknya menyampaikan terimakasih kepada Pj Sekda Bondowoso yang berkenan melepas dan memfasilitasi kegiatan tersebut.

“Kami juga mengucapkan kepada LP2M dan pihak yang terlibat dalam Persemakmuran eks IAIN Sunan Ampel,” kata dia.

Lokasi KKN kolaboratif ini sengaja ditempatkan di Bondowoso karena Kabupaten ini merupakan mitra UIN KHAS Jember.

Tak hanya itu kata dia, Kabupaten Bondowoso juga memiliki potensi yang kaya dan menarik untuk dipelajari bersama.

“Juga bertujuan berkontribusi untuk pembangunan Kabupaten Bondowoso,” jelas dia saat memberikan sambutan.

Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan Pemkab bentuk konkrit untuk menyukseskan pembangunan pemerintah. Sebab perguruan tinggi dan Pemkab sama-sama memiliki tugas pembangunan nasional, baik bidang ekonomi, pendidikan dan sebagainya.

“Kami akan terus menindaklanjuti kerja sama ini untuk memperkuat kolaborasi dan sinergi, sehingga memberikan kontribusi konkrit untuk pembangunan nasional,” tegas dia.

Kepada mahasiswa yang mengikuti KKN kolaboratif, ia berpesan agar mengaktualisasikan diri dan segera beradaptasi dengan teman.

Ia juga mengungkapkan, dengan KKN ini mahasiswa bisa memiliki modal sosial, jejaring antar kampus dan jejaring dengan pemerintah Kabupaten Bondowoso.

Baca Juga : 4 Atlet Tinju Asal Bondowoso Masuk Putaran Final Kejuaraan Piala Walikota Probolinggo

Ia berpesan agar selalu berkoordinasi dengan pejabat di tingkat desa hingga dusun. Serta melibatkan kapolsek dan Danramil setempat. Terpenting juga mengimplementasikan pengetahuan dengan baik selama kegiatan berlangsung.

“Kalian sedang belajar di kelas yang lebih makro dan dihadapkan pada kenyataan riil dari berbagai konteks di lapangan,” kata dia.

Sementara Pj Sekda Bondowoso, Haeriyah Yuliati juga menyampaikan salam dan permohonan maaf dari PJ Bupati Bondowoso karena tidak bisa hadir langsung.

Pj Sekda menyambut baik dan mengapresiasi KKN tersebut. Ia yakin kegiatan ini bisa membantu meningkatkan pengetahuan dan peningkatan kualitas masyarakat di Bondowoso

Haeriyah berharap, mahasiswa melakukan identifikasi permasalahan untuk menjadi bahan perbaikan di masa yang akan datang. “Sehingga membantu menangani permasalahan Masyarakat di Bondowoso,” imbuh dia.

Menurutnya, ada beberapa permasalahan di Bondowoso yang menjadi fokus pemerintah daerah. Diantaranya kemiskinan ekstrem, stunting, dan pernikahan dini.

Ketiga permasalahan ini memiliki keterkaitan. Misalnya pernikahan dini menjadi faktor terjadinya stunting, selanjutnya stunting juga berpengaruh terhadap kualitas SDM dan seterusnya.

Pernikahan dini di Bondowoso disebabkan oleh mindset masyarakatnya. Ia berharap, mahasiswa dapat memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak menikahkan putrinya saat usia dini.

“Kemudian mendorong usia produktif untuk melanjutkan studi agar tidak menikah dini. Penyebab pernikahan dini adalah mindset,” pungkasnya.(Och)