BONDOWOSO – Program pendidikan inklusif yang dilaksanakan oleh Lembaga Pelatihan dan Konsultasi Inovasi Pendidikan (LPKIPI) bersama Unicef di Bondowoso akan segera berakhir pada Juli 2020.

Sejak 2017 hingga saat ini berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah LPKIPIN dan Unicef telah banyak program pendidikan inklusif yang dilaksanakan, bahkan tercatat telah ada 18 sekolah yang menjadi pilot project.

Eko Purnomo, ME Specialis LPKPI Unicef, usai acara Evaluasi dan Strategi Keberlanjutan Pendidikan Inklusif di Bondowoso, Senin (27/7/2020), mengatakan, bahwa pihaknya berharap berakhirnya LPKIPI Unicef di Bondowoso hendaknya tak menghentikan semangat semua yang terlibat dalam pendidikan inklusif. Hal ini tak lain untuk menjamin masa depan pendidikan anak di Bondowoso.

“Ada jiwa untuk memiliki, harus betul-betul dilaksanakan,”ungkapnya.

Terlebih lagi, dari belasan sekolah yang telah menjadi pilot project itu disebutnya telah menunjukkan perkembangan bagus. Utamanya dalam pengelolaan pendidikan, di bagian managementnya.

Di sisi lain, Perbup Inklusif sendiri juga telah terbentuk. Ini dinilainya secara level regulasi sudah cukup untuk pelaksanaan masalah teknis.

 

Baca Juga : Open Bidding dan Mutasi Tak Segera Dilakukan, Sekda: Mau Melangkah, Kegiatan Lain Datang

 

“Cuma kadang kala temen-temen yang ada di wilayah lebih berpikir tingkat derajat dari sebuah regulasi, kalau Perda kan lebih tinggi. Lebih melihat Perdanya,”kata Eko.

Untuk itulah, nantinya manakala Perda terkait inklusif ini telah ada. Ia berharap tak ada tumpang tindih tugas antar OPD. Karena tadi memang ada

Sementara itu, Sekeretaris Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) Bondowoso, Ida Susanti, menerangkan, ada beberapa program inklusif yang memang harus tetap dilanjutkan.

Beberapa rekomendasi yang tetap harus dilanjutkan. Salah satunya, yakni Perda terkait inklusif yang memang saat ini sedang dibahas memang harus segera dilakukan.

Kemudian juga, direkomendasikan untuk segera membentuk unit pelayanan inklusif, berikut unit cost pendidikan inklusif.

“Tapi mudah-mudahan nanti bos unit cost inklusif itu nanti sudah dari APBD karena memang untuk kabupaten, kita masih memang da keterbatasan anggaran disana,”urainya.

Namun demikian, Ia menegaskan bahwa yang terpenting adalah bahwa pendidikan inklusif ini, semua anak di Bondowoso yang berkebutuhan khusus mendapatkan pendidikan secara baik.

“Anak berkebutuhan khusus harus mendapatkan pendidikan secara baik,”pungkasnya.(och)