Share
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Muhadjir Effendy Saat Memberikan Penghargaan Kepada Wakil Bupati Probolinggo Drs. HA. Timbul Prihanjoko.

PROBOLINGGO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo mendapatkan pengakuan atas pelaksanaan penuntasan buta aksara dengan hasil yang cukup signifikan. Pengakuan tersebut diwujudkan dalam pemberian penghargaan Anugerah Aksara Utama tahun 2017 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.

Penghargaan ini diterima oleh Wakil Bupati (Wabup) Probolinggo Drs. HA. Timbul Prihanjoko dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Muhadjir Effendy pada puncak peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) yang dilaksanakan di GOR Ewangga, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat, Jumat (8/9/2017).

Tahun ini, penghargaan ini hanya diberikan kepada 5 (lima) daerah. Selain Kabupaten Probolinggo, penghargaan ini juga diberikan kepada Kabupaten Kuningan Jawa Barat, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur dan Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah.

Dalam kesempatan tersebut, Wabup Probolinggo Drs. HA. Timbul Prihanjoko menyampaikan bahwa penghargaan Anugerah Aksara Utama tahun 2017 ini merupakan bukti kepedulian Pemkab Probolinggo dalam memberantas buta aksara di Kabupaten Probolinggo.

 

Baca Juga : Lima Nama Masuk Bursa Calon Walikota Probolinggo Dari PPP

 

“Penghargaan ini kami dedikasikan kepada seluruh masyarakat Kabupaten Probolinggo. Serta pemangku kepentingan pendidikan di Kabupaten Probolinggo, mulai dari segenap jajaran di Pemkab Probolinggo dan DPRD dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat di bidang pendidikan,” katanya.

Sementara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhadjir Effendy memberikan apresiasi para pemangku kepentingan pendidikan yang telah membantu pemerintah sehingga berhasil menurunkan angka buta aksara.” Saya sangat bangga tingkat buta aksara di Indonesia mengalami penurunan drastis. Ini suatu prestasi yang luar biasa,” katanya.

Dalam penuntasan buta aksara, Menteri Muhadjir mengingatkan kepada seluruh pegiat pendidikan, bahwa keberaksaraan tidak hanya bisa membaca, menulis, dan berhitung. Namun perlu dipastikan jika warga belajar sudah betul-betul mengerti yang dibacanya.

“Begitu juga dengan menulis, perlu dipastikan betul ia mengerti dengan yang ditulisnya. Hal sama juga dengan menghitung. Dengan begitu, maka masyarakat yang beraksara tidak kembali lagi menjadi buta aksara,” jelasnya.

Kepada seluruh kepala daerah yang menerima penghargaan hari ini, Muhadjir berpesan untuk menyampaikan kepada seluruh masyarakat atas keberhasilannya dalam keberaksaraan dan belajar itu penting. (ufa)