BONDOWOSO – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Kohar Ari Santoso menyebutkan empat prioritas program kesehatan di Indonesia ke depan. Di antaranya yakni kesejahteraan ibu dan Anak dengan AKI dan AKB yang menjadi perhatian indikatornya. Kemudian, morbilitas atau pengendalian penyakit menular, tidak menular, dan bencana yang indikatornya adalah angka kesakitan.

“Ketiga adalah masalah gizi, yang indikatornya adalah stunting. Kemudian yang keempat adalah fasilitas pelayanan kesehatan harus bagus,” ujarnya saat menyampaikan sambutan di Gebrak Meja (Gerakan  Bersama Masyarakat dan Karyawan Mengendalikan Jentik Aedes) di Pendapa Bupati, Selasa (27/2).

Berkaitan dengan imorbilitas atau pengendalian penyakit, kata Kohar Ari Santoso, saat ini pola penyakit sekarang berubah. Kalau tahun 90-an, prosentase penyakit menularnya mencapai kira-kira 56 persen, yang 30 persennya adalah penyakit tidak menular, dan tujuh persennya penyakit karena trauma seperti kecelakaan. Namun sekarang, pola penyakitnya berubah. 57 persen penyakit tidak menular, 30 persennya penyakit menular, dan 13 persennya karena kecelakaan atau musibah.

Baca Juga : Kelurahan Dabasah Juara Dua Kader Jumantik Provinsi Jatim

Karena itulah penanganannya pun sedikit banyak bergeser, yakni menekankan paradigma sehat. Artinya, pola pikir, pola tindak, dan kegiatan yang memfokuskan pada promotif dan preventif, di samping upaya penyembuhan kuratif dan rehabilitatif.

Sementara itu Bupati Amin Said Husni dalam sambutannya menguraikan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat ini memang menjadi pekerjaan rumah yang tidak ringan.

Karena harus merubah paradigma kesehatan masyarakat, menyangkut mindset, cara berpikir, berperilaku, serta bertindak yang ditentukan perilaku kesehatan sehari-hari.

“Karena itulah, peran dari kepala desa dan Lurah, Ketua RT/RW menjadi sangat penting di dalam rangka mengedukasi agar perilakukan kesehatan masyarakat terus semakin baik,” pungkasnya. (och)