JEMBER – Komunitas Petani Cabai Indonesia (KPCI) Jember memasuki bulan Ramadan ini mengeluhkan harga cabai yang anjlok. Hal ini diungkapkan Sekretaris KPCI,  Mashuri sekaligus petani cabai saat ditemui di rumahnya di daerah Balung tadi siang.

Menurutnya, kebutuhan pokok rumah tangga, terutama kebutuhan pangan semakin meningkat. Hal ini biasanya diikuti dengan kenaikan harga bahan pokok di pasar. Berbeda jauh dengan nasib para petani cabe saat ini, disaat biaya produksi tanam cabe meningkat, malah ketika panen raya harganya anjlok.

“Harga yang dulu Rp15.000-20.000 per kg, kini anjlok kisaran Rp 3000-5000/kg,” terangnya.

Mashuri menambahkan, kondisi ini dikeluhkan oleh para petani dan ini sudah pasti rugi. Seperti yang dialami salah satu petani lainnya, Achmad yang juga mengeluhkan dengan anjloknya harga cabe yang berimbas pada kegiatan ekonominya.

” Petani merugi,  karna bisyanya dan pendapatan tidak seimbang,” imbuhnya.

 

Baca Juga : Pemkab Bondowoso Siapkan Pasar Murah untuk Masyarakat Miskin

 

Mashuri juga memaparkan, dalam dialognya bersama Ketua KPCI Jember, Aris bahwa harga cabai mulai masuk awal puasa sampek sekarang anjlok. Sedangkan biaya produksi sangat mahal.

“Biyanya pupuk, obat, dan lain-lain tidak mau turun,” ujarnya.

Mashuri menegaskan, bahwa pentingnya harga cabai yang stabil, karena hasil pertanian juga salah satu pendukung perekonomian yang ada di Jember. Cabai juga salah satu kebutuhan sehari-hari.

“Saya berharap pemerintah memikirkan nasib petani seperti saat cabai naik responnya cepat sekali. Giliran cabai murah diam saja, seperti tidak peduli,” pungkasnya. (mam/ron)