BONDOWOSO – Untuk memperkuat pendidikan karakter genarasi muda di daerah Kabupaten Bondowoso, Bupati Amin Said Husni membuat sebuah kebijakan berupa Pendidikan 24 jam yang dikenal dengan P24. Kebijakan P24 ini merupakan pendidikan yang mensinergikan antara pendidikan di sekolah, di rumah, serta di masayrakat. Sehingga, keseluruhan siklus hidup sehari-hari itu adalah siklus pendidikan.

Walaupun kebijakan P24 ini masih belum dibreak down secara operasional tapi kebijakan ini sejalan dengan substansi tentang penguatan Pendidikan Karakter sekarang, dengan menyambungkan antara pendidikan intrakurikuler, ekstarkurikuler, serta co kurikuler di masyarakat dan di rumah.

“Itu sebetulnya adalah substansi yang sama dengan apa yang saya gagas P24 ini,” demikian disampaikan oleh Bupati Amin Said Husni dalam Safari Pendidikan, di SMP 1 Tamanan, Kamis (22/2).

Menurut Bupati Amin, penguatan pendidikan karakter ini menjadi tanggung jawab bersama. Sekalipun sebanarnya ini menjadi topik yang kurang menarik, tapi inilah yang menjadi tanggung jawab utama di dalam dunia pendidikan.  Apalagi, saat ini masih banyak dilihat kasus-kasus murid memukul gurunya, tawuran antar pelajar serta berbagai bentuk kenakalan siswa yang lain.

 

Baca Juga : Sulit Diangkat jadi ASN, Guru Inpassing Kemenag Bentuk Persatuan

 

“Ini adalah merupakan bagian dari tanggung jawab pendidikan,” jelasnya.

Ketua Dewan Pendidikan, Bahar Ma’arif, ditemui di lokasi yang sama, menjelaskan, kebijakan P24 telah diinisiasi sejak sebelum Perpres PPK (Penguatan Pendidikan Karkater) diterbitkan. Program P24 ini telah dicoba  di tiga lokasi di antaranya  Perumahan Nangkaan, Perumahan Kembang, sekitar Ponpes Darul Falah di Cerme. Alasan dipilihnya tiga lokasi ini yakni karena pihaknya ingin memanfaatkan pusat-pusat kebudayaan masyarakat dan pengaruh pesantren, terkait penguatan pendidikan karakter 24 jam.

“Ini sudah setahun lebih. Awalnya hanya tiga tempat. Sekarang sudah menjadi enam insyallah, saya lupa persisnya. Karena yang menjadi pelaksana langsung dari program ini adalah Dikbud. Saya hanya berapa kali turun untuk melakukan monitoring, dan alhamdulillah berjalan,” ujarnya.

Menurutnya, di setiap lokasi pilot project itu memiliki kebijakan berbeda. Ia menyontohkan di Perumahan Kembang, membuat aturan di jam-jam tertentu orang tua harus menemani anak dan tidak menonton TV.

“Bupati punya gerakan turunan yakni Gerakan Kembali Ke mushala. Kenapa ? Karena, anak-anak ini digiring kembali untuk mendapatkan pendidikan karakter di mushala-mushala,” pungkasnya. (och)