PROBOLINGGO – Pasca kematian massal, 32 domba di Kabupaten Probolinggo, petugas dari Dinas Peternakan setempat masih terus menyelidiki penyebabnya. Berdasarkan hasil uji lab sementara, penyebab kematian domba ini bukanlah antrax. Seperti yang dikhawatirkan sebelumnya. Selain itu, jumlah kematian domba ini juga bertambah.

Selasa (29/8) siang, petugas dari Dinas Peternakan, masih melakukan penyelidikan dan  pengambilan sample di lokasi matinya puluhan domba milik Nur Hasan, di Dusun Krajan Desa Sumberkerang Kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo. Pemeriksaan dilakukan pada domba yang belum mati,dan  mengalami trauma.

Mulai dari ciri-ciri lutut yang berlubang, mata, dan mulut. Jumlah domba yang mati pun bertambah. Semula, domba yang mati tercatat sebanyak 56 ekor, dari  dua desa, yakni Desa Sumberkerang dan Desa Banyuanyar Lor. Saat ini, jumlah itu bertambah manjadi 64 ekor. Dimana kematian terbanyak, dialami oleh Hasan, sebanyak 41 ekor hingga Senin siang.

Baca Juga : Puluhan Ekor Kambing Mati Secara Misterius

“Tidak ada ciri-ciri atau tanda khusus seperti penyakit. Tiba-tiba mati begitu saja,” Kata Hasan.

Sejauh ini, berdasarkan hasil uji laboratorium pasca kematian, diketahui penyebab kematian domba itu bukanlah penyakit antrax. Petugas masih terus berupaya untuk mengungkap penyebab pasti kematian hewan ternak ini.

“Pasca kematian kemarin, kami langsung mengirim sample darah dan sejumlah organ. Khawatirnya antrax, tapi ternyata bukan. Hari ini, kami juga masih melakukan pemeriksaan lainnya,” ujar kabid kesehatan dinas peternakan Kabupaten Probolinggo, Nur Eko Widianto.

Masih menurut Eko, kekhawatiran pada antrax, cukup beralasan. Sebab, penyakit tersebut dapat menular, dari ternak ke manusia.

“Tapi setelah tahu kalau itu bukan antrax, kami sedikit lega,” pungkasnya. (ufa)