Share

 

BONDOWOSO – Ribuan masyarakat berbondong-bondong datang ke Alun-alun Ki Bagus Asra untuk turut menutup malam peringatan hari jadi kota Bondowoso ke-198. Dengan tema pesta rakyat, jantung kota nan asri, disulap menjadi layaknya sebuah pameran. Puluhan stand berjejer menjadi tempat pelaku UMKM dan komunitas memamerkan barang dagangan maupun unjuk gigi akan inovasi yang telah dibuat.

Jalanan yang padat merayap dengan lalu lintas di hari-hari biasanya, berubah menjadi lautan manusia. Tak ada satupun kendaraan bermesin yang melintas, kecuali sepeda ontel tua milik komunitas ontel Bondowoso. Masyarakat bisa melanggeng bebas di tengah jalan, sembari berhenti melihat stand maupun sekedar berfoto selfie dibeberapa tempat strategis yang pas untuk berswafoto.

Tak hanya itu, masyarakat kota tape ini juga bisa melihat hiburan tari modern seperti break dance maupun parkur yang dibawakan oleh komunitas muda. Tepat di tengah Alun-alun Ki Bagus Asra jugaa terdapat panggung yang dihias dengan bambu, dengan hiburan band musik anak Bondowoso. Dan panggung yang menjadi saksi bisu, akan indahnya tarian tradisional khas Bondowoso dan kesinan Ronjengan berpadu dengan musik Patrol iringi lagu Lir Saalir yang dibawakan oleh pemuda-pemudi Kecamatan Wringin.

 

Baca Juga : Pesta Rakyat Meriah, Bupati Amin: The Climax of Harjabo

 

Tak lupa dengan jargon “Bondowoso Republik Kopi”, juga disediakan Kampung Kopi yang merubah suasana trotoar depan kantor Bappeda seromantis Bali. Tentunya dengan hidangan berbagai jenis kopi Bondowoso.

Seperti tema Pesta Rakyat, yang mengangkat konsep car free night dan malam expresi, pusat kota menjadi tempat “perkawinan” inovasi, kreasi, serta prestasi generasi kota tape semalam suntuk.

Imam, salah seorang pengunjung asal Pujer, mengatakan bahwa dirinya rela untuk terkena maacet karena ramainya pengunjung, demi menyaksikan langsung berbagai hiburan di pusat kota. “Kan jarang-jarang ada hiburan begini di Bondowoso. Apalagi sekarang ini kan ultahnya atau happy birthdaynya Bondowoso. Banyak hiburan. Jadi rugi kalau ndak liat,” ungkapnya.

Senada, Novela Yuni Pangistu, mahasiswi IKIP Jember ini, mengatakan, bahwa melalui harjabo ini bukan cuma hiburan yang bisa saya liat. “Tapi saya juga jadi tau kesenian tradisional Bondowoso. Ternyata di Bondowoso juga ada komunitas yang sudah bisa buat aplikasi keren. Jadi walaupun rame banget sampek tadi sulit parkir motor, saya tetep dateng,” tuturnya. (och)