Share

BONDOWOSO – Tohari, Ketua DPRD Bondowoso PAW tak menyangka bahwa dirinya akan menduduki pucuk pimpinan di legislatif. Karena, memang sejak kecil Ia hanya bermimpi menjadi seorang petani dan pebisnis andal. Jiwa bisnis dan bertani tersebut bisa dibilang, muncul sebagi bagian naluri kehidupan yang Ia lakoni sejak kecil lantaran kondisi ekonomi keluarga.

Tohari kecil menjadi pebisnis sejak kelas 3 sampai kelas 6 SD dengan menjual es lilin. Setiap harinya, sembari sekolah, Ia membawa dagangan 1-2 termos es milik juragannya. Sepulang sekolah, ia juga harus membantu menjual gorengan untuk mendapatkan tambahan penghasilan membiayai sekolahnya. “Di waktu senggang, saya membantu orang tua berjualan,” ungkapnya.

Hebatnya, semenjak mengusahakan sendiri biaya Pendidikan itu, Tohari kecil tidak pernah lagi meminta uang saku ketika berpamitan berangkat ke sekolah. Semua kebutuhan sekolah (termasuk biaya sekolah) diupayakan sendiri. Sementara saat SMP, Ia pun tetap berbisnis untuk membiayai Pendidikan sekolahnya, yakni “ngengon” sapi atau memelihara sapi milik orang lain.

Selain karena faktor kehidupan ekonomi yang tak mapan, Tohari kecil menyadari betul bahwa, kemiskinan bukan untuk dinikmati, tetapi untuk dilawan. Ia percaya bahwa Allah tidak akan mengubah suatu kaum, apabila kaum tersebut tidak mau berusaha. Berawal dari itulah, niatnya untuk hidup mandiri dan tidak membebani orang tua mulai terbersit.

Sementara itu, jiwa bertaninya sendiri muncul karena sejak dini telah membantu keluarganya mengerjakan lahan sawah. Selain itu, sejak menempuh pendidikan Madrasah Aliyah (MA) di Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo  tahun 1987-1990, Ia kemudian membantu pekerjaan di pondok pesantren sebagai tukang dan membantu pekerjaan di sawah.

Hal itu dilakukan untuk sekedar memenuhi kebutuhan untuk biaya makan selama di dhalam/pondok. Tentunya, berangkat dari inisiatif diri yang tak ingin membebani kedua orang tuanya.

Puluhan tahun berselang, penjual es lilin itu, kini didapuk menjadi Ketua DPRD PAW, menggantikan Ahmad Dhafir yang maju dalam Pilbup 2018.

 

Bermula dari amanah guru-guru selama menempuh pendidikan di pondok pesantren Nurul Jadid, ia memulai latar belakang politiknya. Awalnya tidak pernah terbersit dalam benaknya akan terjun ke dunia politik dan menekuninya sebagai salah satu cara berbaur dan menjalankan aspirasi masyarakat. Guru-gurunya selalu berpesan agar setelah pulang (kembali ke masyarakat) ia berkhidmat di Nahdatul Ulama (NU).

Setelah kembali ke Maesan dan hidup bermasyarakat, ia kemudian bergabung di NU, mencari informasi kepengurusan NU di tingkat ranting. Ia mulai melakukan pendekatan kepada orang-orag (tokoh-tokoh) yang bergabung dan berperan di NU Bondowoso.

Setahun setelah menikah, ia kemudian ditunjuk menjadi ketua MWC NU Kecamatan Maesan tahun 1993. Pada saat itu, sangat jarang ada yang mau menjadi ketua NU di daerah Maesan. Untuk daerah Bondowoso sendiri memang saat itu minim sekali tokoh-tokoh masyarakat yang tertarik untuk bersentuhan langsung dengan masyarakat, terutama melalui jalur politik. Pekerjaan kantoran dan PNS dianggap sebagai profesi yang menjanjikan untuk masa tua.

Berangkat dari sejarah masa kecil yang hidup serba kekurangan, Tohari mengetahui betul keadaan masyarakat di sekitarnya yang sebagian besar masih berada di bawah garis kemiskinan. Ia paham betul penderitaan masyarakat yang serba kekurangan. Ketika melihat sekelilingnya, hatinya tersentuh untuk turut serta membantu meringankan beban masyarakat miskin. “Melihat mereka tersenyum menjadi harapan tersendiri bagi saya,” ungkap pria yang juga ketua tim pemenangan Dhafir-Dayat ini.

Berbekal pengalaman hidup yang dialaminya untuk menjadi petani dan pebisnis yang sukses, ia ingin turut serta mengubah pola pikir masyarakat untuk belajar hidup mandiri. Pengalaman  berorganisasi, menjalani kehidupan pernikahan, berkhidmat di NU membuatnya semakin dekat dengan masyarakat, terutama masyarakat miskin.

Tahun 1998 di Bondowoso mulai terbentuk PKB.  Cikal bakal kepengurusan PKB dibentuk oleh NU di semua tingkatan. Mulai dari sinilah peran Tohari semakin meningkat. Untuk tingkat PAC PKB, kebetulan yang membentuk adalah MWC NU. Pada saat itu, para kiai menunjukknya menjadi ketua PAC PKB Maesan. Ditunjuknya ia menjadi ketua PAC PKB Maesan masih belum membuka pemikirannya untuk maju menjadi anggota DPRD dan terjun langsung ke dunia politik di Bondowoso.

Setelah menjadi ketua PAC PKB Maesan, ada kewajiban partai untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPRD. Untuk melaksanakan amanat dari MWC NU, menghargai perjuangan Nahdatul Ulama, dan amanat dari para kiai akhirnya ia siap mencaonkan diri menjadi anggota DPRD dari Dapil IV, Bondowoso.

Selama menjabat sebagai anggota DPRD Bondowoso sebanyak empat periode, ia selalu mendapatkan posisi penting. Salah satunya selalu ditugaskan di badan anggaran dan badan musyawarah partai.

Rencananya, pada  13 April 2018 berlokasi di kantor DPRD Bondowoso, Tohari akan dialntik sebagai Ketua DPRD menggantikan Ahmad Dhafir. Ia sendiri telah menerima SK pelantikan dari Gubernur Jawa Timur, Sukarwo, bernomor 171.430/335/011.2/2018 dan  171.430/326/011.2/2018. (och)