BONDOWOSO – Dari tahun ke tahun, jumlah penderita HIV/AIDS di Bondowoso terus meningkat secara signifikan. Perlu langkah serius dari berbagai pihak untuk mencegah semakin meluasnya penyakit menular dan mematikan tersebut.

Hal itu mengemuka dalam pertemuan antara Global Fund Aids TB Malaria (GF ATM) dengan Dinkes Bondowoso di Gedung PPNI, Rabu (5/4/2017). Pertemuan itu guna mencari masukan dalam hal pelaksanaan KT HIV Rumah Sakit utamanya terkait penggunaan dalam sistem managemen Anti Retro Viral (ARV).

Pasidi Shidiq, Kabid Program Pemberantasan Penyakit Dinkes Bondowoso, mengungkapkan bahwa di Bondowoso kasus HIV/AIDS memiliki tren yang terus meningkat. Pada 2004 ditemukan tiga kasus, namun pada 2016 sudah ditemukan 422 kasus.

Sementara pada 2017 sampai Maret, penderita yang terdeteksi sudah mencapai 39 orang. “Lebih dari 50 persen ditemukan pada ibu rumah tangga,” ungkapnya.

Di Bondowoso, kata dia, berbagai upaya penanggulangan terus dilakukan oleh pemerintah daerah, khususnya melalui Dinkes Bondowoso. Bahkan, kata dia, Bondowoso sudah memiliki payung hukum tersendiri untuk penanggulangan HIV/AIDS. Yaitu dengan sudah ditetapkannya PERDA No 5 Tahun 2012.

Keberadaan Perda itu menurutnya sebagai salah satu upaya agar HIV/AIDS di Bondowoso lebih dapat perhatian. “Kemudian pada pertengahan tahun 2015 VCT terbentuk di RSU dr. Koesnadi Bondowoso,” pungkasnya. (mc/esb)