PROBOLINGGO – Penderita HIV AIDS di Kota Probolinggo meningkat dari tahun ke tahunnya, sejak 2012 sampai 2017. Hal ini disampaikan Staf Bagian Pencegahan HIV AIDS Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Probolinggo, Dewi Lestari, saat acara diskusi sinergitas antar stakeholder di lingkup Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo, Jumat (11/8) pagi bertempat aula Dinkes Probolinggo.

Menurut Dewi, penyebaran HIV AIDS di wilayah Kota Probolinggo terjangkit akibat hubungan seksual yang tidak aman.

“Sebenarnya penderita ini bukan terjangkit dari hubungan seksual saja yang dinilai negatif saja oleh masyarakat, melainkan bisa terjangkit dari berbagai cara, seperti tertular jarum suntik, transfusi darah atau lainnya,” katanya kepada sejumlah wartawan.

Sampai dengan tahun 2016 ini, kata Dewi, bahwa penderita HIV AIDS di Kota Probolinggo didominasi oleh kaum Adam dari pada kaum Hawa.

“Jumlah terbanyak memang dari penderita laki-laki sebanyak 152 orang dan perempuan sebanyak 83 orang. Dari keseluruhan jumlah tersebut sudah meninggal dunia sekitar 46 orang penderita,” tambahnya.

Usia produktif menurut Dewi adalah jumlah yang paling dominan dari jumlah penderita HIV AIDS.

 

Baca Juga : RKUPA PPAS PAPBD 2017, Pemkab Probolinggo Ditandatangani

 

Menurut Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Probolinggo, Badrut Tamam, mengatakan bahwa penyakit HIV AIDS ini adalah salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan di Kota Probolinggo.

“Memang epidemi HIV AIDS diKta Probolinggo menunjukan peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun. Dari tahun 2012-2016 ada sekitar 235 penderita,” jelas Badrut.

Dikatakan pula oleh Badrut saat acara tersebut menjelaskan tujuan diadakannya untuk meningkatkan kemampuan stakeholder dalam upaya pencegahan dan penanganan HIV AIDS di Kota Probolinggo.

“Selain itu, tujuan diadakan acara ini adalah untuk mencegah penyebaran penyakit HIV AIDS di wilayah Kota Probolinggo. Juga untuk meningkatkan pemahaman bagi stakeholder Kota Probolinggo dalam penanganan HIV AIDS,” bebernya.

Sementara kata salah satu pengurus NU Kota Probolinggo, Ridowi kepada media mengungkapkan bahwa penderita HIV AIDS yang sudah meninggal dunia tidak akan menulari orang lain.

“Ini yang harus dipahami oleh masyarakat luas, bahwa mayat penderita HIV AIDS itu sudah tidak menular lagi. Jadi mayat tetap harus dimandikan, dan itu tidak menular sebab virus tersebut akan mati jika penderita tersebut sudah meninggal dunia,” paparnya.

Kata Ridowi, penyebaran HIV AIDS sebaiknya perlu di waspadai. Kalau bisa kata Ridowi, jumlahnya pada setiap tahunnya berkurang bukan malah bertambah. (ufa)