Share

SURABAYA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur berharap Kementerian Perdagangan serta Kementerian Kelautan dan Perikanan segera mempercepat solusi terkait kelangkaan garam konsumsi yang saat ini terjadi di seluruh wilayah Indonesia termasuk di Jawa Timur. Kelangkaan ini juga mengakibatkan harga garam konsumsi terus meningkat bahkan saat ini sudah mencapai dua kali lipat dari harga normal. Demikian diungkapkan Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf.

Gus Ipul sapaan akrabnya mengatakan, Jawa Timur merupakan sentra garam dan menyumbang 40 persen kebutuhan garam nasional. “Jika garam di Jatim langka tentu berpengaruh ke daerah lain,” katanya.

Terkait kelangkaan ini, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur juga telah menghubungi seluruh provinsi yang ada di Indonesia untuk mencari jika ada stok garam. Namun, seluruhnya ternyata juga sudah habis dan tidak memiliki stok lagi.

Menurutnya, kelangkaan garam yang saat ini terjadi merupakan imbas dari tidak menentunya musim yang terjadi sejak tahun 2016 silam. Akibat panjangnya musim penghujan, pada tahun 2016, petani garam di Jawa Timur hanya mampu menghasilkan 123.873 ton garam dari target produksi sebesar 1,2 juta ton.

“Tahun ini, target 1,2 juta ton pertahun juga tidak terpenuhi. Hingga bulan ini petani garam di Jawa Timur hanya mampu menghasilkan 689 ton. Padahal kebutuhan garam konsumsi masyarakat Jatim pertahunnya sekitar 150 ribu ton,” ujarnya.

 

Baca Juga : Kesadaran Masyarakat Bertambah, Pendonor Darah Meningkat

 

Impor garam sebenarnya bisa dilakukan, Namun dijelaskannya terkendala peraturan pemerintah (Permen) dimana impor garam hanya bisa dilakukan untuk garam yang kadar Natrium Kloridanya (NaCL) dibawah 97 persen.

“Selama ini, garam dengan kandungan NaCL digunakan untuk garam produksi, sedangkan garam konsumsi kandungan NaCLnya hanya 94-96 persen dan PT Garam sebagai satu-satunya importir yang bisa mendatangkan garam konsumsi juga kesulitan mencari garam dengan kandungan NaCL di bawah 97 persen,” jelasnya.

Ditambahkannya, beberapa Negara lumbung garam saat ini sudah sangat jarang yang memproduksi garam dengan kandungan NaCL di bawah 97 persen. Diminta pemerintah pusat agar bisa memberikan diskresi kepada importir garam konsumsi untuk bisa mendatangkan garam dengan NaCL 97 persen.

“Jika tak segera mendapatkan diskresi, saya khawatir kelangkaan garam konsumsi di Indonesia akan semakin terjadi yang akibatnya harga garam konsumsi terus melambung dan akan membebani masyarakat,” pungkasnya.

Sekedar diketahui, data di Dinas Perdagangan dan Perindustrian Jawa Timur menunjukkan, harga garam terus naik. Pada Juli 2014 harga garam konsumsi perkilogramnya Rp 2.984. Pada juli 2015 harganya menjadi Rp3.308. Sedangkan Juli 2016 menjadi Rp3.883 dan pada juli 2017 meningkat tajam menjadi Rp5.792. (sga)