Share

PROBOLINGGO – Gerakan Peduli Ibu Hamil (Gerdu Bumil) diupayakan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo guna untuk mendukung menurunkan angka kematian ibu di Kabupaten Probolinggo, melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo.

Menurut Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo, dr Shodiq Tjahjono kepada media mengatakan bahwa Gerdu Bumil ini mempunyai tujuan untuk meningkatkan peran serta multi pihak dalam mendukung menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Probolinggo.

“Adanya komunikasi yang efektif antara lintas sektor dan lintas program tentang kesehatan ibu dan anak, meningkatkan kepedulian keluarga dan lintas sektor serta masyarakat tentang kesehatan ibu hamil,” katanya kepada media.

Selain itu, kata dr Shodiq untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil, juga terkait dengan perawatan ibu hamil, ibu nifas dan bayi baru lahir, peran suami terhadap istrinya yang sedang hamil, juga harus ada peningkatan.

Shodiq, menjelaskan bahwa angka kematian bayi di Kabupaten Probolinggo saat ini sudah turun dari tahun sebelumnya. Tahun 2016 ada 223 kematian bayi, tahun 2017 sampai bulan Nopember minggu ke-2 sebanyak 159 bayi. Dan kematian ibu tahun 2016 sebanyak 20 dan tahun 2017 sebanyak 13 ibu.

“Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu upaya penurunan jumlah kematian ibu dan bayi,” ungkapnya.

Hanya saja terang Shodiq, pihaknya mengakui bahwa saat ini masih mempunyai Pekerjaan Rumah (PR) yang sangat penting yaitu bayi dengan BBLR 5,8% di Kabupaten Probolinggo masih cukup tinggi, dari tahun ke tahun baik.

“Kalau bayi itu tidak mendapatkan perawatan dan asupan gizi yang baik, akan menjadi stunting (pendek). Tahun 2017 di Kabupaten Probolinggo anak stunting diperkirakan ada sekitar 28,42%. Oleh karena itu dengan kegiatan ini salah satunya meningkatkan pengetahuan ibu hamil dengan gizi ibu hamil,” terangnya

 

Baca Juga : Pemkab Ikut Promosikan Produk Hasil UKM Melalui Media Massa

 

Sebelumnya pada acara Gerdu Bumil ini diikuti oleh 1000 orang peserta terdiri dari bumi, suami bumil, camat, kepala puskesmas, perwakilan Polres dan Kodim 0820 Probolinggo, CSR, Kinerja USAID, OPD terkait, direktur rumah sakit (Waluyo Jati, Tongas, Wonolangan, Graha Sehat dan Rizani), STIKes, TP PKK Kecamatan, bidan koordinator, organisasi profesi (IDI, IBI dan PPNI), MSF, kepala desa, Babinsa dan Babinkamtibmas dan kader (ormas, Fatayat dan Muslimat).

Sementara Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesra Sekda Kabupaten Probolinggo Asyari mengatakan mengingat keberhasilan pembangunan suatu daerah diukur melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Dimana salah satu indikatornya adalah indeks kesehatan, yang diartikan sebagai kemampuan masyarakat untuk hidup sehat dan mencapai usia harapan hidup cukup panjang diatas 72 tahun.

“Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan IPM bidang kesehatan yang saat ini masih rendah. Yakni 64,12 urutan ke-32 dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Salah satu indikatornya adalah kematian bayi di Kabupaten Probolinggo yang masih tinggi. Dimana 223 bayi di tahun 2016 dan tahun 2017 menurun menjadi 159 sampai dengan bulan Nopember minggu ke-2,” ungkapnya.

Mengingat banyaknya jumlah kematian ibu dan bayi yang ada di Kabupaten Probolinggo jelas Asyari, perlu adanya suatu upaya yang bersifat pendidikan dan promosi kesehatan. Sehingga masyarakat mengetahui begitu pentingnya kesehatan ibu hamil, yang akan melahirkan generasi penerus, dengan harapan generasi yang berkualitas berguna bagi agama, masyarakat dan bangsa.

“Kegiatan gerakan peduli ibu hami ini merupakan bentuk pembelajaran yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan kepada masyarakat serta suatu kepedulian dari pemerintah daerah terhadap ibu yang hamil sampai melahirkan,” jelasnya.

Kegiatan ini diawali dengan penampilan Tari Genjin dari STIKes Hafshawaty Zainul Hasan Genggong. Gerdu Bumil ini juga diisi dengan fashion show ibu hamil dengan 33 peserta serta senam yoga ibu hamil. Serta seminar tentang gizi bumil dan pola asuh anak oleh dokter spesialis kandungan dan anak.

Sementara itu, Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesra Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo, Asyari yang mewakili Bupati Probolinggo juga mengatakan bahwa kepedulian dari beberapa pihak terhadap kondisi kesehatan ibu dan anak yang ada di Kabupaten Probolinggo, baik dari pemerintah maupun swasta dari tiga pilar (babinkamtibmas, babinsa dan kepala desa/lurah), termasuk peranan keluarga untuk mendukung keselamatan ibu hamil sampai melahirkan tentu sangat dibutuhkan.

“Budaya sarapan pagi sebelum jam 7 pagi merupakan pola makan yang paling penting bagi ibu hamil untuk meningkatkan kualitas kehamilannya dan meningkatkan kualitas janin yang dikandungnya sehingga kehamilan dan persalinannya menjadi lebih baik dan bayi yang dilahirkan diharapkan memiliki berat badan diatas 2500 gram yang menunjukkan penerus kita lebih berkualitas,” ungkapnya sesuai dengan petunjuk dari Bupati Probolinggo.

Kepada ibu hamil dan suami yang mendampingi, Asyari mengharapkan mudah-mudahan diberikan kelancaran dalam proses persalinannya.

“Saya sangat berharap dukungannya semua pihak untuk ikut mendampingi dan mengawasi ibu hamil di sekitarnya. Serta menyiapkan, memastikan pembiayaannya, sehingga tidak terjadi keterlambatan dalam penanganan ibu yang akan melahirkan,” harapnya. (afu)