Share

BONDOWOSO – Kabupaten Bondowoso selama ini dikenal sebagai kota tape. Namun demikian, dikhawatirkan suatu hari, ini hanya menjadi sebuah jargon, karena tergerus oleh daerah lain yang mulai mengembangkan tape dengan rasa yang tidak kalah. Tentu ini memantik Bondowoso untuk bisa mengembangkan tape, agar bisa memiliki nilai tambah dan nilai jual, sehingga memperkuat Bondowoso sebagai kota tape.

“Bondowoso dikenal sebagai kota tape. Tapi ya berhenti di situ saja tidak cukup. Perlu pengembangan terhadap tape tersebut agar memiliki nilai tambah dan nilai jual,” kata Eko Bambang Visianto, Kepala Seksi pemberdayaan keluarga dan perempuan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Bondowoso, Rabu (26/7) di Aula Ijen View dalam acara Pelatihan Keterampilan dan Kemandirian Masyarakat desa.

Ia menjelaskan salah satu upaya untuk mengembangkan tape yakni melatih anggota PKK di desa yang dikomandani ibu kepala desa untuk bisa mengembangkan tape. Terlebih, kata Bambang, Bupati Bondowoso Amin Said Husni, berharap agar One village One product (satu desa, satu produk) benar-benar terwujud.

Selain itu, Ia menyebutkan bahwa kegiatan ini dilakukan untuk mengurangi kemiskinan. Dalam program feminisasi kemiskinan, disebutkan bahwa jika terjadi kemiskinan maka yang paling merasakan dampaknya adalah kaum perempuan.

“Kebetulan kan tidak bisa mengarahkan pada semua perempuan, jadi kita arahkan siapa sih perempuan yang memiliki peranan besar. Kita langsung dapat Ketua tim penggerak PKK,” ujarnya.

 

Baca Juga : Produk Mamin Bondowoso Bisa Bersaing di Luar Daerah

 

Sementara itu, Sumaryati Hidayat, Wakil Ketua Penggerak PKK Kabupaten mengatakan, penggerak PKK di desa sebagai ujung tombak sudah tentu menjadi kepanjangan dari PKK pemerintah daerah. Karena itu, mereka memiliki peranan pula untuk membangun desa yang ujungnya menyejahterakan rakyat.

“Untuk peningkatan SDM-nya, termasuk peningkatan pelatihan keterampilan. Yang tujuannya juga di dalamnya berkaitan diharapkan ke depannya untuk meningkatkan kesejaheteraan. Harapannya tentu Bu kades ini bisa getok tular kepada ibu-ibu di desa,” tuturnya.

Ia mengatakan dipilihnya tape sendiri karena memang Bondowoso dikenal sebagai kota tape. Apalagi juga didukung oleh bahan lokal yang mudah didapat di Bondowoso yakni umbi-umbian.

“Nanti untuk pemasarannya tentu ada. Tapi ini adalah langkah awalnya dulu, yang penting packing dan pengemasan, kualitasnya menarik dulu. Apalagi ada kopwan-kopwan di desa dan kabupaten termasuk bekerjasama dengan desa,” tambahnya.

Untuk informasi, pelatihan ini sudah dilakukan kedua kalinya, setelah sebelumnya tahun 2016 sudah melakukan pelatihan serupa untuk 100 desa. Sekarang pelatihan diikuti oleh 109 desa.(och)