BONDOWOSO – Hasil panen kopi arabika di Bondowoso tahun ini meningkat 60 persen dari tahun lalu. Dimana pada tahun lalu, potensi per hektar yakni 200 – 300 kg, saat ini meningkat jadi 700 kg green been per hektar.

“Kalau gelondongannya dulu hanya 2 ton, tapi kalau sekarang bisa 4 sampai 5 ton,” demikian disampaikan oleh Sumarhum  Ketua Apeki Nasional. Menurutnya, meningkatnya hasil kopi petani ini, karena kondisi cuaca yang mendukung.

Di samping itu, laki-laki yang juga Pelaku Usaha kopi Java Ijen ini, mengatakan  bahwa kondisi ini  semakin menguntungkan para petani kopi, karena harga kopi arabika yang cukup bagus. Untuk kopi arabika dalam bentuk HS kering atau basah yakni Rp 25 ribu hingga Rp 27 ribu per kilogram. Kemudian dalam bentuk green been asalan yakni Rp 60 ribu – Rp 70 ribu per kg. Sedangkan, green been great satu, yalni Rp 80 – 100 ribu per kilogram.

“Itu masuk kategori specialtynya,” urainya.

 

Baca Juga : Godok Raperda Kopi, 7 Fraksi Sampaikan PU

Namun demikian, keuntungan yang saat ini dialami oleh petani kopi arabika. Justru tidak dirasakkan oleh petani kopi robusta. Karena, dengan kondisi curah hujan yang tinggi, menurunkan hasil panen Kopi robusta hinga hingga rata-rata 200 kg green been per hektar.

“Cuaca bagus untuk kopi arabika, belum tentu bagus untuk robusta,” terangnya.

Disinggung perihal Pemkab yang tengah mengusulkan Raperda tentang Kopi, Sumarhum, menilai bahwa hal itu sangat bagus dalam upaya mengatur tata niaga kopi. Hanya saja, perlu adanya konsistensi dari pemerintah dalam menyiapkan  solusinya.

Ia mencontohkan tidak boleh menjual HS basah. Tapi, masih belum dilengkapi dengan perlengkapan yang memadai untuk bisa mengelola green been yang bagus. (och)