Share

SURABAYA – Gubernur Jawa Timur mengirimkan surat ke Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
(Mendikbud) untuk menunda penerapan program Full day School. Penundaan dilakukan atas aspirasi dan permintaan para ulama dan kiai Jawa Timur (Jatim).

”Saya sudah memerintahkan pak Saiful Rahman Kepala Dinas Pendidikan Jatim dan pak Himawan Biro Hukum untuk mengirim surat ke Kemendikbud.Kami juga meminta Kadis Pendidikan tidak membahas masalah Full Day School di media sosial apapun. Hal ini dilakukan untuk menghindari konflik sosial di  masyakat,” katanya.

Menurutnya, apabila penerapan full day ini diterapkan bisa membuat program yang diterapkan di jaman Gubernur Pak Imam Utomo bisa berhenti, karena Jatim ini basis pendidikan Diniyah dan Salafiyah yang dinilai menjadi kunci  kekuatan spritual dan moralitas pelajar.

“Basis terhadap spritual dan moralitas ini jangan diganggu. Justru kami pertahankan Diniyah Salafiyah di Jawa timur itu, ini khas Jawa timur,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, Gubernur yang akrab disapa Pakde Karwo ini juga akan mengeluarkan edaran kepada seluruh Bupati dan Walikota se-Jawa Timur agar pelaksanaan Full Day School ditunda terlebih dahulu. Tak terkecuali Walikota Surabaya Tri Rismaharini yang telah menyatakan akan menerapkan kebijakan baru tersebut.

“Saya akan membuat edaran agar semua ditunda,” pungkasnya.

 

Baca Juga : Gus Ipul Santuni 6.000 Anak Yatim dan Kaum Dhuafa Bersama Wali Kota Malang

 

Sementara itu, anggota DPRD Jatim, Sri Untari mengatakan, meskipun hanya belajar selama 5 hari, kebijakan sistem belajar full day dinilai tidak efektif bagi para murid, terutama yang ada di perdesaan. Mengingat kebijakan tersebut secara perlahan-lahan dapat menghapus kultur dan interaksi si anak kepada lingkungan sekitarnya.

Untari mengaku selama ini anak yang hidup di pedesaan, setelah pulang sekolah membantu orang tuanya. Seperti memandikan sapi, bercocok tanam, dan mencari buah-buahan. Anak-anak terbiasa beriteraksi dengan lingkungannya yang sudah menjadi kultur.

“Setelah aktifitas di lapangan, anak-anak mengaji di sekitar tempat tinggalnya,” katanya.

Untari menambahkan, full day sangat tidak bijak, jika diterapkan di seluruh sekolah, mengingat kultur anak pedesaan dengan perkotaan berbeda.

“Kalau full day, anak-anak tidak dapat mengaji di kampungnya. Mengaji itu juga bagian dari adaptasi dengan orang sekitarnya,” ujarnya.

Full day sangat cocok diterapkan bagi masyarakat urban atau perkotaan. Mengingat masyarakat perkotaan tidak banyak ikut mencari nafkah, seperti anak perdesaan. Di sisi lain, full day di perkotaan dapat mencegah terjadinya perbuatan negatif. Diharapkannya agar mendikbud mengkaji ulang rencana penerapan full day bagi seluruh sekolah.

“Full day sebaiknya diterapkan bagi sekolah diperkotaan, atau sekolah keluarga menengah ke atas,” pungkasnya.(sga/ron)