Share
Gubernur Jatim Dr H Soekarwo Penandatanganan MOU Sister Province atau State Jawa Timur dengan Perdana Menteri Australia Barat di Gedung Negara Grahadi

SURABAYA – Kerjasama antara Jatim Australia Barat sangat penting dan harus dikongkritkan karena sumberdaya alam (SDA) Australia yang melimpah untuk dilakukan proses nilai tambah di Jatim. Demikian disampaikan Gubernur Jatim Dr. H Soekarwo usai Resigning MoU Kerjasama Provinsi atau Negara Bagian Kembar Jatim-Australia Barat dan peresmian kerjasama konsorsium PTN Jatim dan Perguruan Tinggi di Australia Barat di gedung negara Grahadi, Surabaya, kemarin.

Pakde Karwo sapaan akrabnya mengatakan Perlu segera dilakukan senior official meeting perwakilan dua belah pihak, termasuk melibatkan kamar dagang dan industri masing-masing. “Saat ini, sekitar 70-79% barang impor Jatim adalah bahan baku. Perlu diidentifikasi produk-produk apa yang dibutuhkan Jatim dan tersedia di Australia Barat,” katanya.

Dengan mengimpor produk-produk Australia Barat, menurutnya biaya produksi bisa menjadi lebih rendah. Apalagi, jika pemberian nilai tambah dilakukan di Jatim sebagai pasar potensial, bukan hanya penduduknya yang besar tetapi juga sebagai hubungan bagi Indonesia timur dengan jumlah penduduk tidak kurang dari 120 juta.

Terkait kerjasama konsorsium perguruan tinggi negeri Jatim dan lima perguruan tinggi Australia Barat, dia menilai dinilai sebagai langkah strategis guna mendorong pembangunan dua wilayah serta sekaligus peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Sementara itu, Menteri Australia Barat Pertambangan dan Perminyakan, Perdagangan dan Hubungan Industri, Urusan Pemilihan dan Kerjasama Asia Bill Johnston, MLA, menyambut positif penegasan usulan program kerjasama Pakde Karwo, yang dinilainya sejalan dengan kebijakan Pemerintah Negara Bagian Australian Barat.

 

Baca Juga : 5 Daerah di Jatim Dipanggil Pakde Karwo Bahas Imunisasi MR

 

“Potensi besar Jatim dan masyarakatnya yang terbuka telah membuktikan sejumlah pengusaha Australia telah berinvestasi di Jatim,Selain itu, Australia Barat juga memfokuskan kerjasama dengan Asia, yang terlihat dari nama kementeriannya, Asia Engagement,” katanya.

Sementara itu penandatanganan kembali MOU Jatim-Australia Barat periode 2017-2022 juga menandai kerjasama konsorsium PTN Jatim dengan mitranya di Australia Barat. Kegiatan kerjasama antara lain penelitian dan publikasi bersama,pertukaran mahasiswa dan dosen dua belah pihak serta diserahkan beasiswa S2 audiologi bagi Valina Khiarin Nisa, dosen psikologi UNAIR Surabaya.

Menurut Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Jatim, Benny Sampir Wanto,pemberian beasiswa tersebut sebagai salah satu hasil kerjasama provinsi/negara bagian Jatim-Australia Barat

“Beasiswa dibiayai oleh Pemerintah Australia Barat dan yayasan the East Java Hearing Aid Foundation Australia Barat, yang diketuai Ms. Trisha Henderson,” ujar mantan Kepala Biro Kerjasama ini.

Pemberian beasiswa, lanjutnya, disampaikan oleh Premier Australia Barat kepada Gubernur Pakde Karwo di Perth tahun lalu, yang selanjutnya ditindaklanjuti dengan seleksi kandidat oleh Tim Seleksi Australia Barat.

Sekedar diketahui, sebanyak 10 PTN Jatim yang bergabung dalam konsorsium ini, yaitu ITS, UNAIR, UB, UNEJ, UNESA, UIN Malik Ibrahim Malang, Universitas Trunojoyo Bangkalan, Universitas Pembangunan Veteran (UPN), Universitas Islam Surabaya (UINS), dan Universitas Negeri Malang (UNM). Sementara itu, universitas di Australia Barat diantaranya the University of Westerndan Australia, Murdoch University, the University of Notre Dame. (sga)