Share

SURABAYA – Kepala Desa (Kades) harus lebih peka terhadap keamanan dan ketertiban di sekitar masyarakat. Untuk itu, Gubernur Jatim, Dr. H. Soekarwo meminta apabila ada gerak-gerik yang mencurigakan warga masyarakatnya, segera berkoordinasi dengan empat pilar plus pembangunan desa yakni TNI, POLRI, Kades dan tokoh masyarakat.

“Kepekaan ini sudah disepakati sejak awal, yakni ketika para Kades disumpah menduduki jabatan. Kades merupakan ujung tombak mempertahankan Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan kebhinekaan. Alasannya, di desa lah komunitas terkecil warga bangsa bertemu dan berkumpul sehari-hari,” ujar Gubernur Jatim, Dr. H. Soekarwo usai membuka Seminar Nasional Desa Membangun Indonesia dan Pelantikan DPD Apdesi Provinsi Jatim masa bhakti 2017-2022 di Sidoarjo, Selasa (16/5) tadi pagi.

Menurutnya, Kades harus mampu menjadi deteksi dini apabila ada sesuatu yang aneh di lingkungan sekitar. Apabila ada warga yang berpakaian dan berbicara berbeda dan mengarah terhadap Keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) segera berkoordinasi dengan empat pilar plus untuk dicarikan solusi dan penanganan.

Gubernur Jatim, Dr. H. Soekarwo saat membuka Seminar Nasional Desa Membangun Indonesia dan Pelantikan DPD Apdesi Provinsi Jatim masa bhakti 2017-2022 di Sidoarjo,Kemarin.

“Kades saya minta juga agar menggunakan Dana Desa dengan bijak. Kades juga mengalokasikan Dana Desa untuk penguatan ekonomi kreatif di pedesaan. Selama ini, dana desa masih banyak yang digunakan untuk perbaikan infrastruktur dan prosentasenya mencapai 80 persen,” ujarnya.

 

Baca Juga : Pakde Karwo Akan Bentuk Koperasi Bagi PNS Purna Tugas

 

Dijelaskannya, keseimbangan dalam perencanaan harus difikirkan. Apabila hanya memikirkan infrastruktur tidak akan seimbang. Dampaknya meskipun jalan desa sudah bagus, tapi ekonomi kreatif tidak dibangun akan menjadi percuma. “Jalan desa bisa rusak lagi, kalau tidak dibarengi dengan pertumbuhan
ekonomi kreatif,” jelasnya.

Pakde Karwo mencontohkannya, salah satu wujud penguatan ekonomi kreatif yang seiring dengan pembangunan infrastruktur adalah mengajak karang taruna ikut andil didalamnya. Misalnya, paving untuk pembuatan jalan desa diproduksi sendiri oleh karang taruna. Sehingga akan ada industri kreatif yang timbul didalamnya.

“Apabila terus menerus membeli bahan dari toko, maka perekonomian di desa tidak akan bisa berkembang,” pungkasnya. (sga)